SOLOBALAPAN.COM – Insiden pelemparan batu terhadap bus Tim Persik Kediri oleh oknum Aremania usai laga kontra Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Malang, Minggu (11/5/2025), menuai gelombang kecaman dari publik, khususnya warganet dan pecinta sepak bola nasional.
Banyak yang menyayangkan tindakan tersebut dan menilai bahwa tragedi kelam Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, yang merenggut 135 nyawa, tampaknya belum menjadi pelajaran yang berarti.
“Belum lewat 1.000 hari tragedi Kanjuruhan loh. Astagfirullah, baru pertama main di Kanjuruhan saja udah kayak gini,” tulis akun X @tweetpersik dalam unggahan video dan foto, Minggu (11/5/2025).
Akun @FaktaSepakbola turut mengangkat fakta menyentuh, dimana sehari sebelum pertandingan, pemain dan ofisial Persik Kediri sempat mendoakan para korban tragedi Kanjuruhan. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Stadion Kanjuruhan kembali digunakan, meski sempat banyak yang tak setuju. Persik Kediri akhirnya melakukan away ke Malang. Sehari sebelum pertandingan, pihak Persik memanjatkan doa untuk para korban tragedi Kanjuruhan. Ketika pertandingan, Persik menang 3-0 atas Arema. Saat pulang dari stadion, bus Persik malah ditimpukkin sampai kaca pecah,” tulis akun tersebut.
Kolom komentar pun dipenuhi kemarahan dan kritik tajam dari para netizen:
“Berarti kesimpulannya Arema nggak bisa kalah di kandang? Apakah semua tim harus mengalah jika bertandang ke sana?” tulis @IvanSir36978462.
“Setiap diingetin tragedi Kanjuruhan maka akan langsung dikomparasi sama tragedi Hillsborough,” tambah @dika_agussn.
Menanggapi insiden ini, akun resmi @AremafcOfficial turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka:
“Kami minta maaf sebesar-besarnya untuk Tim Persik Kediri atas kejadian hari ini setelah pertandingan saat perjalanan menuju hotel di daerah Kepanjen, Kabupaten Malang. Kita jaga harmoni kekeluargaan ini dari dalam hingga luar lapangan,” tulis mereka.
Namun permintaan maaf tersebut tak lantas meredam amarah publik. Warganet tetap melontarkan kritik keras:
“He @PSSI, klub ini kalau mau balik Kanjuruhan, sertai dulu dengan catatan tanpa suporter minimal 5 tahun. Dari kejadian ini kita semua belajar, kalau mereka nggak belajar dari tragedi. Lima tahun waktu yang cukup untuk potong generasi suporter sekarang sekaligus menyembuhkan trauma semuanya,” tulis @Arizkypradana.
“Ingatkan mereka soal Tragedi Kanjuruhan, mungkin mereka lupa,” ucap @armonthz.
“Minta maaf doang cukup??? Minimal didik supportermu. Kalau nggak mampu, ya jangan ada pertandingan home di Kanjuruhan. Selamanya!” tulis @Bennyvian.
“Nirempati, seakan-akan 135 korban cuma jadi statistik aja. Shame on you Arema,” ujar @Saklar_listrik.
Gelombang kritik dari netizen menunjukkan bahwa masyarakat menuntut sikap tegas terhadap aksi anarkis yang mengancam keselamatan tim tamu dan mencederai semangat sportivitas sepak bola nasional. (dam)
Editor : Damianus Bram