Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Rocky Gerung Permasalahkan Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia, Coach Justin: Gue Enek Dengarnya

Didi Agung Eko Purnomo • Minggu, 29 September 2024 | 19:42 WIB
Pengamat sepak bola Tanah Air Justinus Lhaksana
Pengamat sepak bola Tanah Air Justinus Lhaksana

SOLOBALAPAN.COM - Pengamat sepak bola terkemuka, Coach Justin (Justinus Lhaksana), memberikan tanggapan atas pernyataan Rocky Gerung yang mempertanyakan keberadaan pemain naturalisasi dalam Timnas Indonesia.

Coach Justin merasa tidak nyaman dengan beberapa istilah yang digunakan Rocky Gerung terkait naturalisasi pemain keturunan atau diaspora.

Salah satu istilah yang menarik perhatian Justinus Lhaksana adalah "penipuan terhadap sensasi."

Tanggapannya muncul secara spontan saat mendengarkan rekaman pernyataan Rocky Gerung dalam acara Korea Korea Selecao (KKF) yang dipandu oleh Bambang Wuryanto, atau yang akrab disapa Bambang Pacul.

"Gue enek, sebelum gue sakit perut, tolong ditutup dulu," kata Coach Justin sambil meminta moderator untuk menghentikan rekaman tersebut.

Menurutnya, istilah "penipuan" harus memiliki parameter yang jelas, begitu juga dengan parameter "sensasi."

"Jadi, orang ini memang hebat dalam memutar kata. Pisang yang bengkok bisa jadi lurus kalau dengerin Rocky Gerung," katanya.

Meski demikian, dia menghormati perbedaan pendapat tersebut, terutama karena Indonesia adalah negara demokrasi.

"Orang bebas berpendapat tentang sesuatu, dan orang lain juga bebas berpendapat berbeda," tambahnya.

"Kayak Rocky Gerung atau Peter Gontha, mereka boleh ngomong apa saja. Intinya, biarin aja, bebas kok. Itu hak mereka untuk mengkritik, dan hak kita untuk mengabaikan," ujarnya.

Coach Justin menegaskan bahwa mayoritas, bahkan 99 persen rakyat Indonesia, merasa senang dengan apa yang terjadi pada Timnas Indonesia.

Apalagi, pemain Timnas Indonesia yang menjalani proses naturalisasi memiliki darah Indonesia.

"Perhatikan pemain diaspora kita, ada nggak yang rambutnya blonde? Rambut mereka semua gelap karena memang ada darah Indonesia," tegasnya.

Memang ada beberapa kasus yang berbeda, seperti Marc Klok yang tinggal di Indonesia selama lima tahun dan kemudian menjadi WNI, serta Maarten Paes yang tidak memiliki darah Indonesia, tetapi neneknya pernah tinggal di sini.

Menurutnya, kebijakan naturalisasi dalam Timnas Indonesia tidak melanggar aturan negara maupun FIFA, sehingga sah untuk dilakukan.

Sebagaimana diketahui, Rocky Gerung, yang dikenal sebagai akademisi filsafat dan pengamat politik, baru-baru ini juga memberikan pendapat mengenai prestasi Timnas Indonesia.

"Euforia dalam persepakbolaan kita itu ada. Namun, euforia tersebut bisa membatalkan atau membuat kita lupa bahwa yang bermain di lapangan sebenarnya bukan grup yang kita idealkan," katanya.

Menurutnya, apa yang terjadi sekarang dengan proses naturalisasi adalah semacam penipuan terhadap sensasi.

"Kalau ada naturalisasi, tentu ada yang tidak sesuai dengan prinsip patriotisme," ujarnya.

Rocky menambahkan bahwa meskipun sepak bola adalah olahraga mendunia dan orang-orang menyaksikan kegembiraan di lapangan, sangat disayangkan jika tim nasional tidak dibentuk dari bibit pemain lokal.

"Timnas seharusnya berasal dari bibit kita. Jika belum ada bibit yang memadai, lalu dilakukan naturalisasi, itu seperti menghentikan proses pembibitan," ungkapnya.

Bagi Rocky, tidak masalah jika timnas sering kalah, asalkan prestasi muncul dari pembibitan yang baik.

Sebagaimana diketahui, kebijakan naturalisasi pemain keturunan di Timnas Indonesia menuai pro dan kontra.

PSSI juga telah berulangkali menegaskan bahwa kebijakan ini diikuti dengan pembinaan sepak bola di kelompok umur. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#rocky gerung #timnas indonesia #pemain naturalisasi baru #Coach Justin