SOLOBALAPAN.COM – Di Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, terdapat sebuah sumber mata air alami yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namanya Umbul Langse.
Airnya yang jernih membuat umbul ini tak pernah benar-benar sepi. Warga datang untuk berenang, berendam, hingga melakukan terapi yang mereka yakini dapat membantu memulihkan berbagai keluhan kesehatan.
Namun, Umbul Langse bukan sekadar kolam alami. Di balik aliran airnya tersimpan tradisi masyarakat, cerita tentang pengobatan, hingga harapan menjadikannya destinasi wisata baru yang dikelola desa.
Baca Juga: Umbul Rogoboyo: Mata Air yang Pernah Mati 3 Bulan, Kini Jadi Nadi Kehidupan Warga Kadireso
Ramai Didatangi Dini Hari
Direktur BUMDes Desa Nepen, Bambang Sutejo, mengatakan Umbul Langse telah lama dimanfaatkan masyarakat. Salah satu aktivitas yang paling menonjol adalah terapi dengan berendam di sumber mata air.
Menurut Bambang, pengunjung yang datang untuk terapi bahkan mulai berdatangan sejak dini hari. Mereka bisa berendam hingga pagi.
“Ramainya di sini jam 2. Kalau orang terapi itu sampai jam 8 pagi. Dari jam 2 malam sampai jam 8 pagi,” ujar Bambang.
Baca Juga: Bukan Sekadar Mata Air, Ini Rahasia Umbul Nilo Klaten yang Bikin Orang Betah Berendam
Sebagian pengunjung meyakini berendam di Umbul Langse membantu mengatasi berbagai keluhan, seperti stroke, saraf terjepit, dan tekanan darah tinggi.
“Umbulnya ini alami, buat terapi penyakit, semacam saraf kejepit, stroke, tekanan darah tinggi. Banyak yang meyakini sembuh,” katanya.
Salah seorang pengunjung, Suyati, mengaku telah rutin mendatangi Umbul Langse selama sekitar setahun. Ia datang karena mengalami gejala stroke dan merasa kondisinya membaik.
“Saya sudah satu tahun sering ke umbul ini. Saya ke sini karena gejala stroke, tapi sekarang sudah enak, sudah sembuh,” tutur Suyati.
Meski demikian, Suyati menegaskan proses pemulihannya tidak hanya mengandalkan berendam. Ia tetap mengonsumsi obat dan melakukan aktivitas lain.
“Sembuh ya karena obat, ya renang. Kalau renangnya nggak bisa, ya kungkum ini buat terapi,” ujarnya.
Pengalaman Suyati dan keyakinan masyarakat menjadi bagian dari cerita Umbul Langse. Namun, klaim bahwa air umbul dapat menyembuhkan penyakit tidak dapat dianggap sebagai bukti medis. Manfaat terapi air bagi kondisi kesehatan tertentu tetap memerlukan pembuktian secara ilmiah dan tidak menggantikan pengobatan medis.
Pernah Jadi Pusat Tradisi Warga
Jauh sebelum mulai diarahkan menjadi destinasi wisata, Umbul Langse telah memiliki ikatan kuat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Nepen.
Masyarakat dahulu mengenal tradisi merepi deso atau memetri umbul. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus penghormatan masyarakat terhadap keberadaan sumber mata air.
Tradisi itu dimeriahkan berbagai kesenian. Salah satunya kuntulan, kesenian tari bernuansa Islam yang memadukan gerakan tari dengan lantunan salawat.
“Dulu ada agenda merepi deso atau memetri umbul. Selain wayang juga ada kuntulan. Kuntulan itu istilahnya seni tari, sifatnya ritual keagamaan Islam. Yang diucapkan itu salawatan, pakai nari,” terang Bambang.
Tradisi tersebut biasanya digelar bertepatan dengan peringatan kemerdekaan setiap 17 Agustus.
Kegiatan dapat berlangsung sejak siang hingga malam dan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
“Ritualnya di sini pas 17-an Agustusan. Siangnya itu kuntulan atau malamnya, setelah itu nanggap wayang, dari sore sampai subuh,” jelasnya.
Bagi masyarakat, pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan. Tradisi menjadi ruang berkumpul sekaligus memperkuat hubungan antarwarga.
Dua Bulan Mulai Dikelola BUMDes
Potensi Umbul Langse kini mulai mendapat sentuhan pengelolaan yang lebih serius. BUMDes Desa Nepen baru sekitar dua bulan mengambil peran dalam pengelolaan kawasan tersebut.
Langkah itu diharapkan mampu menata fasilitas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi desa.
Sejumlah fasilitas dasar telah tersedia, termasuk kamar mandi. Ke depan, kawasan Umbul Langse direncanakan diperluas dengan tambahan wahana permainan air.
“Umbul ini ada kamar mandinya juga. Umbul ini juga mau diperluas, dibikin water play, rencananya begitu,” kata Bambang.
Jika rencana tersebut terealisasi, Umbul Langse tak hanya menjadi tempat warga berendam atau berenang. Kawasan itu diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata keluarga yang menggabungkan potensi alam dengan budaya lokal.
Bukan Sekadar Mata Air
Umbul Langse menyimpan lebih dari sekadar air yang mengalir dari perut bumi. Di sana ada cerita tentang warga yang datang sejak dini hari untuk berendam, tradisi memetri umbul yang pernah menjadi bagian dari kehidupan desa, hingga geliat baru BUMDes untuk mengembangkan potensi wisata.
Tantangannya kini adalah bagaimana mengembangkan kawasan tanpa menghilangkan karakter alaminya.
Kelestarian sumber air, kebersihan lingkungan, kenyamanan pengunjung, serta keberlangsungan tradisi lokal perlu berjalan beriringan dengan pengembangan wisata.
Jika dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat, Umbul Langse berpeluang menjadi destinasi wisata berbasis alam dan budaya yang memperkuat ekonomi Desa Nepen sekaligus menjaga warisan yang telah hidup turun-temurun. (rara belva zain carissa)
Editor : Kabun Triyatno