SOLOBALAPAN.COM – Keluhan warga terkait kualitas air minum PUDAM Tirta Ampera Boyolali yang tercemar di wilayah Dukuh Kenteng, Desa Penggung, Kecamatan Boyolali Kota, dipastikan telah tuntas.
Direktur Utama (Dirut) PUDAM Tirta Ampera Boyolali, Iwan Marwanto, memastikan aliran air bersih ke rumah-rumah pelanggan sudah kembali normal sejak Selasa (21/7/2026) siang.
"Sejak kemarin aliran sudah kembali normal," tegas Iwan saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
Iwan meluruskan bahwa dampak pencemaran air tersebut tidak meluas ke seluruh wilayah pelanggan, melainkan hanya berimbas pada cakupan area yang sangat terbatas.
"Yang terdampak hanya 17 rumah atau 17 KK di sekitar Kenteng, bukan seluruh pelanggan," jelasnya.
Baca Juga: Baru 45 Hari Menjabat, Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Lengser akibat Masalah Kesehatan
Lakukan Flushing Pipa dan Pengecekan Ulang
Guna memastikan tidak ada sisa pencemaran, pihak PUDAM langsung menerjunkan tim teknis untuk melakukan pengurasan (flushing) pada saluran pipa dan bak penampungan.
Hingga Rabu (22/7/2026), PUDAM mengaku sudah tidak lagi menerima laporan susulan mengenai kendala air dari masyarakat setempat.
"Hari ini tim kami sudah melakukan cross check ulang ke lapangan untuk memastikan kondisi air benar-benar jernih dan layak," beber Iwan.
Bermula dari Video Viral dan Keteledoran Petugas
Sebelumnya, jagat media sosial sempat dihebohkan oleh rekaman video yang memperlihatkan air di bak penampungan warga Dukuh Kenteng berubah keruh cokelat dengan lapisan busa tebal berwarna putih keabu-abuan. Warga menduga air tersebut terkontaminasi bahan kimia dosis tinggi.
Menanggapi hal itu, Iwan Marwanto mengakui adanya faktor kesalahan manusia (human error) dari petugas lapangan saat mengolah air baku.
"Penyebabnya ada keteledoran dari petugas kami. Untuk itu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat," tutur Iwan.
Ia membeberkan, insiden bermula pada Senin (20/7/2026) malam ketika air baku yang bersumber dari Kedung Banteng dan Embung Melikan berubah warna menjadi hijau akibat dampak pertumbuhan lumut.
Guna menormalisasi warna air, petugas di fasilitas pengolahan berniat menetralkannya menggunakan gas klor. Namun, terjadi kesalahan saat pengaturan dosis sehingga takaran gas klor yang dialirkan justru terlalu tinggi (overdosis).
Reaksi kimia antara lumut (air hijau) dengan gas klor konsentrasi tinggi tersebut seketika memicu gumpalan busa tebal dan membuat warna air berubah keruh sebelum mengalir ke kran warga. (fid/dam)
Editor : Damianus BramSumber : Radar Solo