Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ironi Pangan: Ketika Peternak Ayam Solo Raya Terpaksa "Mandi Telur Busuk" Demi Menolak Gulung Tikar

Alfida Nurcholisah • Selasa, 7 Juli 2026 | 15:25 WIB
Pendemo menggelar aksi teatrikal dengan mandi telor di daerah Gladag Solo, Selasa (7/7). (M. Ihsan/solobalapan.com)
Pendemo menggelar aksi teatrikal dengan mandi telor di daerah Gladag Solo, Selasa (7/7). (M. Ihsan/solobalapan.com)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Area Gladak, Solo, mendadak riuh dan dipenuhi aroma anyir pada Selasa (7/7/2026). Puluhan butir telur mentah satu per satu dipecahkan dan diguyurkan ke sekujur tubuh para peternak.

Aksi teatrikal "mandi telur" ini bukan sebuah perayaan, melainkan puncak dari keputusasaan dan protes masif para peternak ayam mandiri se-Solo Raya yang kolaps akibat dihantam badai ekonomi selama dua bulan terakhir.

Sektor peternakan rakyat di Boyolali, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Solo saat ini sedang berada di titik nadir. Mereka dipaksa menelan kerugian miliaran rupiah akibat harga jual ayam hidup dan telur yang anjlok ke tingkat terendah, sementara di saat yang sama, harga pakan justru melambung tinggi mencekik leher.

Baca Juga: Nyawa dan Keselamatan Pekerja Jadi Taruhan, Mengapa Kelalaian K3 di PLTSa Putri Cempo Solo Terus Berulang?

Telur Tak Laku Jadi Simbol Perlawanan: "Daripada Dibuang, Kami Pakai untuk Protes"

Koordinator aksi Peternak Solo Raya, Parjuni, mengungkapkan bahwa telur-telur yang digunakan untuk mengguyur tubuh mereka adalah stok yang sudah lama menumpuk di gudang kandang. Komoditas tersebut membusuk karena pasar menolak menyerap akibat kelebihan pasokan yang tidak terkendali.

"Telur ini sudah sama sekali tidak laku di pasar. Daripada terbuang sia-sia di tempat sampah, kami gunakan untuk aksi mandi telur ini sebagai simbol protes. Kami ingin mengetuk hati pemerintah agar melihat langsung jeritan kami di lapis bawah," tegas Parjuni di sela-sela aksi.

Dalam aksi yang diikuti sekitar 100 peternak tersebut, mereka juga membawa 80 ekor ayam hidup serta 50 kilogram telur. Sebagian ayam dan telur matang dibagikan cuma-cuma kepada warga yang melintas, sementara puluhan kilogram telur mentah dijadikan alat peraga demonstrasi.

Angka yang Menjerat: Harga Jual Jauh di Bawah Biaya Produksi

Kondisi riil di tingkat peternak saat ini sudah sangat tidak rasional. Jurang antara biaya modal dan harga jual di pasaran sudah terlalu lebar, memaksa peternak merugi pada setiap butir telur dan setiap kilogram daging ayam yang keluar dari kandang.

Komoditas Harga Riil di Peternak (Juli 2026) Target Ideal Pemerintah (HPP/HAP)
Ayam Hidup (per Kg) Rp13.000 Rp19.500 – Rp20.000 (HPP)
Telur Ayam (per Kg) Rp17.000 – Rp18.000 (sempat Rp16.500) Rp24.000 (HAP)

Baca Juga: Bingung Lihat Harga iPhone Juli 2026? Ini Alasan Harga Normal Bisa Jauh Lebih Mahal Dibanding Promo iBox

Peternak ditaksir kehilangan pendapatan sekitar Rp 9.000 hingga Rp 10.000 untuk setiap kilogram telur yang mereka lego. Krisis ini diperparah oleh melonjaknya harga bahan baku pakan sebesar 5 hingga 7 persen.

Harga jagung yang dipatok pemerintah sebesar Rp5.500 per kilogram di lapangan justru meroket hingga Rp 6.800–Rp 7.000 per kilogram. Begitu pula dengan bungkil kedelai impor yang naik Rp 2.000 per kilogram.

Kritik Kebijakan: Pemerintah Dinilai Tebang Pilih dan Gagap Regulasi

Ketua Peternak Boyolali Bersatu, Krishandrika Imanuel Rahardjo, melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan makro pemerintah. Ia menilai regulasi yang dikeluarkan sering kali tidak berpihak pada peternak rakyat. Salah satu yang disorot adalah penurunan Harga Acuan Penjualan (HAP) telur dari Rp26.500 menjadi Rp24.000 di saat bahan baku pakan dunia sedang mahal.

Baca Juga: Tembus Rp45 Juta! iPhone 17 Pro Max 2 TB Resmi Jadi HP Sultan di Indonesia, Harga Maksimal Apple Bikin Melongo

"Bahan dasar pakan seperti jagung dan kedelai naik gila-gilaan, tapi anehnya HAP untuk telur—yang merupakan sumber protein termurah bagi rakyat—malah diturunkan oleh pemerintah. Ini kebijakan yang kontradiktif," kritik Krishandrika.

Ia juga menyentil sikap pemerintah yang dinilai tebang pilih. Ketika harga telur naik sedikit saja di pasar, pemerintah dengan sangat cepat melakukan operasi pasar untuk menekan harga demi konsumen kota. Namun, ketika harga di tingkat peternak hancur seperti saat ini, peternak dibiarkan sekarat menanggung kerugian sendiri tanpa ada intervensi serapan yang berarti.

Tuntutan Peternak: Tata Kelola Impor Bibit dan Desakan Kementerian Baru

Jatuhnya harga ini dinilai bersumber dari kelalaian pemerintah dalam mengontrol hulu produksi, terutama tata kelola impor Grand Parent Stock (GPS) atau bibit ayam yang berlebihan pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga memicu over-supply akut saat ini.

Melalui aksi moral di Gladak ini, Peternak Solo Raya melayangkan tiga tuntutan krusial:

  1. Mendesak stabilitas harga ayam dan telur dikembalikan sesuai HPP dan HAP yang adil melalui intervensi pasar.

  2. Membatasi dan memperketat keran impor bibit serta bahan baku pakan yang merugikan peternak mandiri.

  3. Meminta pemerintah pusat membentuk Kementerian Peternakan secara mandiri agar fokus kebijakan di sektor hewani tidak tumpang tindih dan mendapat atensi yang jauh lebih serius.

Baca Juga: Tim Cook Akhirnya Buka Suara! Ternyata Demam AI Jadi Biang Kerok Harga iPhone di Indonesia Meroket Awal Juli

"Kami tidak ingin terus-terusan mandi telur di jalanan. Yang kami butuhkan adalah kepastian regulasi yang berpihak dan melindungi kelangsungan hidup peternak rakyat," pungkas Parjuni menutup aksi. (alf/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#demo harga telor #harga ayam #mandi telor #Harga bahan Pokok #kelebihan pasok