BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Fenomena musim bediding mulai dirasakan di kawasan Gunung Merbabu.
Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau para pendaki untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menyiapkan perlengkapan pendakian yang memadai guna menghindari risiko hipotermia akibat suhu dingin ekstrem.
Kepala BTNGMb, Anggit Haryoso, mengatakan saat ini wilayah Merbabu memasuki masa pancaroba atau peralihan dari musim penghujan menuju musim kemarau.
Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan perubahan suhu yang cukup ekstrem, terutama pada malam hingga dini hari.
“Sekarang kita memasuki masa pancaroba yang ditandai dengan suhu sangat ekstrem. Pada malam hari udara akan terasa lebih dingin dari biasanya dan pada waktu-waktu tertentu berpotensi muncul embun es,” ujar Anggit.
Menurutnya, suhu udara di kawasan puncak Gunung Merbabu dapat turun drastis saat musim bediding berlangsung. Pada puncak fenomena tersebut, temperatur diperkirakan bisa berada di bawah 5 derajat Celsius.
Ketika suhu mencapai titik tersebut, kawasan di atas gunung berpotensi mengalami kemunculan embun es atau yang dikenal masyarakat sebagai upas.
Fenomena ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pendaki, namun juga menyimpan risiko kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Embun Es Diperkirakan Muncul Selama Masa Pancaroba
Anggit menjelaskan kemunculan embun es umumnya terjadi pada awal masa transisi menuju musim kemarau.
“Biasanya terjadi sekitar satu bulan pertama sebelum memasuki musim kemarau yang benar-benar stabil. Fenomena ini umumnya berlangsung kurang lebih selama satu bulan,” jelasnya.
Selain menghadirkan pemandangan unik berupa kristal es di rerumputan dan vegetasi pegunungan, suhu dingin ekstrem juga meningkatkan risiko hipotermia bagi pendaki yang tidak mempersiapkan diri dengan baik.
Pendaki Diminta Tambah Perlengkapan Hangat
BTNGMb mengimbau para pendaki untuk tidak hanya membawa perlengkapan standar, tetapi juga menambah perlengkapan pelindung tubuh dari suhu dingin.
Beberapa perlengkapan yang disarankan antara lain jaket tebal, sleeping bag atau selimut hangat, kupluk, sarung tangan, serta kaus kaki cadangan.
Menurut Anggit, sejumlah kasus hipotermia yang terjadi di Gunung Merbabu dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak dipicu oleh faktor kelelahan dan kurangnya kesiapan fisik pendaki, bukan semata-mata karena fenomena bediding.
“Kasus hipotermia yang terjadi belakangan ini bukan karena peralihan musim, tetapi lebih karena kondisi fisik pendaki yang kurang siap atau mengalami kelelahan saat melakukan pendakian,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kebugaran tubuh sebelum mendaki, mengatur ritme perjalanan, serta memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi selama berada di gunung.
Ikuti Informasi Cuaca Sebelum Mendaki
BTNGMb juga mengingatkan para pendaki untuk selalu memantau perkembangan cuaca sebelum melakukan pendakian.
Informasi cuaca resmi menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan kesiapan perjalanan dan mengantisipasi potensi cuaca buruk di jalur pendakian.
Saat ini, BTNGMb terus berkoordinasi dengan BMKG, khususnya stasiun pemantauan cuaca di Semarang, guna memberikan informasi terkini kepada para pendaki.
Dengan memasuki musim bediding, pendaki diharapkan tidak meremehkan kondisi alam pegunungan. Persiapan perlengkapan yang memadai dan kondisi fisik yang prima menjadi kunci utama untuk menikmati keindahan Gunung Merbabu dengan aman selama musim dingin berlangsung. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto