SOLOBALAPAN.COM-Setiap tarian tradisional tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, tetapi juga menyimpan pesan dan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal itu terlihat dalam salah satu pertunjukan yang ditampilkan pada Pergelaran Tari Kinarya Gatra 2026 di Teater Besar ISI Surakarta, yakni tari Minakjingga Ronggolawe.
Tarian tersebut dibawakan oleh mahasiswa Program Studi Tari ISI Surakarta, Tiqhan Aula yang berperan sebagai Ronggolawe dan Septa Bayu yang memerankan Minakjingga.
Melalui perpaduan gerak, ekspresi, dan iringan musik, keduanya menghadirkan sebuah kisah yang tidak hanya menarik untuk disaksikan, tetapi juga mengandung pesan moral yang masih relevan dengan kehidupan saat ini.
Tiqhan Aula menjelaskan bahwa tari Minakjingga Ronggolawe mengangkat cerita tentang hubungan antartokoh yang di dalamnya terdapat pesan mengenai komitmen dan tanggung jawab terhadap janji yang telah diberikan.
"Pesan yang ingin disampaikan adalah ketika seseorang sudah memberikan janji kepada orang lain, maka janji tersebut harus ditepati," ujarnya.
Menurutnya, nilai tersebut masih memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat modern. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, komitmen dan tanggung jawab tetap menjadi hal penting dalam membangun hubungan sosial maupun profesional.
Di balik gerakan yang ditampilkan di atas panggung, proses latihan yang dijalani para penari juga tidak sederhana.
Baca Juga: Tembok Langganan Vandalisme di Solo Disulap Jadi Galeri Mural, Warga Beri Apresiasi
Sebagai tari berpasangan, Minakjingga Ronggolawe menuntut kekompakan antara kedua penari agar setiap gerakan dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Tiqhan mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam membawakan tarian tersebut adalah menjaga keselarasan gerak dengan pasangan dan mengikuti iringan musik yang menjadi penuntun selama pertunjukan berlangsung.
"Kami harus benar-benar peka terhadap tempo dan ketukan musik. Kalau kehilangan satu ketukan saja, penampilan bisa terganggu karena semua gerakan harus tetap selaras," katanya.
Selain menyampaikan cerita, tari tradisional juga menjadi media untuk mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Tiqhan menilai bahwa tari klasik gaya Surakarta memiliki banyak filosofi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, hampir setiap gerakan dalam tari tradisional memiliki makna tertentu yang tidak hanya bertujuan menciptakan keindahan visual, tetapi juga mengajarkan pengendalian diri, keteguhan, dan cara bersikap dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya tetap tertarik menekuni tari tradisional hingga saat ini. Baginya, tari bukan hanya soal kemampuan bergerak, tetapi juga sarana untuk memahami budaya dan belajar memaknai kehidupan.
Melalui penampilan Minakjingga Ronggolawe dalam Kinarya Gatra 2026, penonton tidak hanya disuguhkan pertunjukan seni yang menarik, tetapi juga diajak memahami pesan tentang pentingnya menjaga komitmen dan tanggung jawab.
Sebuah nilai yang mungkin terlihat sederhana, namun tetap dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Tiqhan berharap generasi muda terus mengenal dan mempelajari tari tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Menurutnya, menjaga keberlangsungan seni tradisi tidak hanya menjadi tugas seniman, tetapi juga tanggung jawab bersama agar warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (lut)
Editor : Laila Zakiya