SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Warga Dukuh Pundung, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, digegerkan dengan penemuan seorang perempuan yang meninggal dunia dalam kondisi membusuk di dalam kamar rumahnya, Selasa (9/6).
Korban diketahui bernama Lilis Setyorini (49). Saat ditemukan, jenazah berada di dalam kamar yang terkunci dari dalam dan diduga telah meninggal lebih dari satu hari sebelumnya.
Penemuan tersebut bermula ketika keluarga korban mencium bau tidak sedap yang berasal dari dalam rumah. Bau menyengat itu akhirnya mengarah ke kamar korban yang selama ini menjadi tempatnya beraktivitas sehari-hari.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo melalui KSPKT Polres Sukoharjo, Yuli Adi, menjelaskan bahwa keluarga awalnya berupaya mencari sumber bau yang tercium sejak pagi.
Baca Juga: Persis Solo Berburu Pelatih Baru, Aji Santoso Menguat dalam Bursa Kandidat
"Pada Selasa sekitar pukul 10.00 WIB, adik korban mencium bau busuk dan berusaha mencari sumber bau tersebut. Setelah dicek, bau berasal dari kamar korban yang dalam kondisi terkunci dari dalam," ujarnya, Selasa (9/6).
Kamar Didobrak Keluarga
Karena tidak mendapat respons dari dalam kamar, adik korban kemudian meminta bantuan suaminya untuk membuka pintu.
Setelah pintu berhasil didobrak, korban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi tubuh mulai mengalami pembusukan.
Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada aparat kepolisian yang kemudian mendatangi lokasi bersama tim identifikasi dan petugas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan awal.
Korban Diketahui Mengalami Depresi
Dari keterangan keluarga, korban terakhir kali terlihat pada Minggu (7/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu adiknya masih mengantarkan makanan melalui jendela kamar dan melihat korban berada di dalam ruangan.
Keesokan harinya, Senin (8/6), makanan kembali diberikan melalui jendela. Namun saat itu korban sudah tidak terlihat. Meski demikian, keluarga tidak menaruh kecurigaan karena korban memang terbiasa menghabiskan waktu seorang diri di dalam kamar.
Menurut polisi, korban diketahui memiliki riwayat depresi dan selama ini lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.
"Korban selama ini diketahui menderita depresi dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Kebutuhan makan sehari-hari biasanya dikirim oleh keluarganya melalui jendela," jelas Yuli.
Polisi Pastikan Tidak Ada Tanda Penganiayaan
Mendapat laporan dari warga, personel Polres Sukoharjo, anggota Polsek Nguter, Tim Inafis, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Nguter langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan terhadap jenazah.
Pemeriksaan medis yang dipimpin dokter Puskesmas Nguter, Titis, tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan pada tubuh korban.
"Hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda penganiayaan. Korban diperkirakan sudah meninggal lebih dari 1 x 24 jam dan diduga meninggal karena sakit," kata Yuli.
Meski demikian, tidak dilakukan autopsi karena pihak keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak pemeriksaan lanjutan.
Keluarga Tolak Autopsi
Usai proses identifikasi dan pemeriksaan awal selesai dilakukan, jenazah korban dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Pihak keluarga juga telah membuat surat pernyataan resmi yang menyatakan menerima kematian korban sebagai musibah serta tidak menghendaki dilakukannya autopsi.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya perhatian dan pendampingan terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental maupun penyakit kronis, terutama mereka yang hidup dalam kondisi terbatas berinteraksi dengan lingkungan sekitar. (kwl/an)