SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Suara kereta yang melintas setiap hari di kawasan Jebres, Kota Solo, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Fika Pratiwi (16). Di rumah sederhana yang berdiri di tepi rel, remaja itu pernah melewati masa-masa sulit ketika harus berhenti sekolah selama dua tahun. Kini, melalui PKBM Bunga Kantil, ia perlahan menata kembali masa depannya dan mengejar cita-cita yang sempat tertunda.
Fika saat ini mengikuti pendidikan kesetaraan di PKBM Bunga Kantil setelah sempat meninggalkan bangku sekolah formal ketika duduk di kelas VIII. Keputusan itu bukan semata karena faktor ekonomi, melainkan juga pengalaman sosial yang membuatnya kehilangan kenyamanan untuk belajar.
Ia mengaku kerap merasa terasing di lingkungan sekolah. Kesulitan bergaul dengan teman-teman sekelas membuatnya semakin enggan datang ke sekolah.
Baca Juga: Sempat Crash di FP2 Moto3 Hungaria 2026, Begini Kondisi Terkini Veda Ega Pratama
“Temenku malah dari kelas lain cuma dua orang. Kalau di kelasku satu kelas nggak mau temenan sama aku, pas kerja kelompok sering nggak dapat teman. Aku nggak nyaman, padahal kalau di sekolah kan butuh teman ngobrol,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Terhenti Dua Tahun
Perasaan tidak diterima membuat Fika akhirnya memutuskan berhenti sekolah. Selama hampir dua tahun, aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di rumah membantu pekerjaan domestik dan bermain gim.
“Dua tahunan aku nggak sekolah, di rumah aja bersih-bersih rumah sama main game. Sempat mau cari kerja tapi pas aku bilang ke ibu tidak dibolehkan,” katanya.
Di balik kisah putus sekolah tersebut, tersimpan persoalan keluarga yang tidak ringan. Ayahnya telah lama menderita sakit dan tidak lagi tinggal bersama keluarga.
Baca Juga: Jelang Perwali Baru, Pemkot Solo Gencarkan Kampanye Pilah Sampah hingga Tingkat Kelurahan
“Bapak sudah tujuh tahun sakit dan tidak mau pulang ke rumah. Hidupnya di Taman Sekartaji. Bapak sakit jantung dan bagian otak kecilnya itu sakit,” tutur Fika.
Sementara itu, ibunya harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas.
“Ibu kerjanya jadi pengemis jadi jarang pulang, paling tiga hari sekali atau lima hari sekali. Tapi ibu bilang yang penting aku sekolah dulu,” ungkapnya.
Kesempatan Kedua untuk Belajar
Titik balik kehidupan Fika datang ketika keluarganya menerima undangan dari Dinas Pendidikan untuk menghadiri kegiatan di Balai Kota Solo. Dari pertemuan tersebut, ia mengetahui keberadaan PKBM Bunga Kantil yang memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak yang tidak bersekolah.
“Nah waktu itu dapat surat dari dinas untuk datang ke balai kota, terus di sana dijelasin kalau ada PKBM Bunga Kantil ini akhirnya saya masuk,” katanya.
Kesempatan itu menjadi jalan baginya untuk kembali mengenyam pendidikan. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Fika berusaha hadir secara rutin mengikuti kegiatan belajar.
Baca Juga: Buntut Kasus Guru Cabul, Disdikbud Wonogiri Buka Kanal Aduan Khusus Siswa
Karena sang ibu tidak selalu berada di rumah, ia terkadang harus diantar oleh pamannya agar bisa sampai ke lokasi belajar.
“Biasanya kalau ibu lupa nganter atau ibu nggak bisa nganter, aku diantar sama pakde. Aku sekolah dari Senin sampai Kamis jam 08.00 sampai jam 12.00,” ujarnya.
Menemukan Lingkungan yang Menerima
Berbeda dengan pengalaman di sekolah sebelumnya, Fika mengaku merasa lebih nyaman belajar di PKBM. Lingkungan yang lebih inklusif membuatnya kembali percaya diri untuk berinteraksi dan belajar bersama teman-teman sebaya.
“Aku merasa lebih asik di PKBM Bunga Kantil. Guru matematikanya juga kalau menjelaskan lebih mudah dipahami. Aku senang banget di Bunga Kantil. Di sana teman-temannya juga asik dan mau menerima aku,” katanya.
Selain pelajaran akademik, peserta didik juga dibekali berbagai keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal di dunia kerja. Salah satunya pelatihan barista yang diikuti Fika setiap pekan.
Baca Juga: Waisak Raya 2570 TB di Solo Perkuat Toleransi dan Cinta Kasih Antarumat Beragama
“Kalau hari Kamis dilatih keterampilan dan barista. Aku jadi bisa praktik barista,” ujarnya.
Kisah Fika sekaligus menunjukkan bahwa persoalan anak putus sekolah tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan. Faktor lingkungan sosial, perundungan (bullying), hingga minimnya dukungan psikologis di sekolah juga dapat menjadi penyebab anak kehilangan motivasi belajar.
Mengejar Mimpi ke Jepang
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi keluarganya, Fika kini memiliki tujuan yang ingin diwujudkan. Ia bercita-cita bekerja di Jepang dan menyadari bahwa pendidikan menjadi syarat penting untuk mencapai impian tersebut.
“Aku pengen ke Jepang jadi aku harus punya ijazah supaya bisa masuk LPK dan bisa pergi kerja ke Jepang. Rencananya aku juga pengen di PKBM lagi masuk SMA nanti,” ujarnya.
Dukungan ibunya menjadi kekuatan terbesar yang membuatnya bertahan dan kembali melanjutkan pendidikan.
“Ibu selalu mendukung aku buat sekolah. Dia juga sempat cariin aku sekolah tapi tidak ada yang mau karena sudah penuh. Ibu juga ngajarin aku untuk lebih berani kalau dibully teman,” katanya.
Baca Juga: Riyandi hingga Irfan Jauhari Dirumorkan Hengkang, Persis Solo Janjikan Visi Cepat Promosijalu
Meski pemerintah tengah menyiapkan berbagai alternatif pendidikan bagi anak dari keluarga rentan, termasuk program Sekolah Rakyat, Fika memiliki pilihannya sendiri. Ia mengaku lebih nyaman tinggal di rumah sederhana yang berdiri di tepi rel kereta api.
“Aku nggak bisa di Sekolah Rakyat karena kalau di sana nggak bisa pulang dan aku nggak bisa tidur kalau nggak dengar suara kereta,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Fika, suara kereta yang setiap hari melintas bukan sekadar kebisingan. Suara itu menjadi saksi perjalanan hidupnya, dari masa ketika pendidikan terhenti hingga saat ia kembali menata mimpi dan menatap masa depan dengan harapan baru. (alf/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto