Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Dibela Hujan dan Berdesakan Demi Berkah, Tradisi Rebutan Gunungan Grebeg Besar Solo Tetap Diserbu Warga

Silvester Kurniawan • Rabu, 27 Mei 2026 | 14:10 WIB
Tradisi Rebutan Gunungan Grebeg Besar Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
Tradisi Rebutan Gunungan Grebeg Besar Solo. (M Ihsan/Radar Solo)

 

SOLOBALAPAN.COM  — Tradisi rebutan gunungan dalam Grebeg Besar Idul Adha Keraton Kasunanan Surakarta kembali membuktikan daya tariknya.

Meski pelaksanaannya digelar lebih awal dari biasanya, ratusan warga tetap memadati kawasan ritual demi menyaksikan arak-arakan hingga berburu isi gunungan yang dipercaya membawa keberkahan.

Masyarakat bahkan datang dari berbagai daerah untuk ikut ambil bagian dalam salah satu tradisi budaya paling dinanti di Kota Solo tersebut.

Pelaksanaan Grebeg Besar Idul Adha 2026 pada Rabu (27/5) dipenuhi lautan warga yang berjubel di sejumlah titik, mulai dari Masjid Agung Surakarta hingga kawasan Kori Kamandungan Keraton Surakarta.

Tradisi berebut sesaji dari dua gunungan kembar masih menjadi magnet utama yang membuat masyarakat rela datang sejak pagi.

"Saya dari Klaten, sengaja datang untuk lihat Grebeg Besar ini," kata Surati yang sengaja datang untuk mengikuti kegiatan itu.

Baca Juga: Penerus Chery QQ Lahir Kembali Jadi Mobil Listrik, Jarak Tempuh Bisa 400 Km Harga Rp200 Juta

Isi Gunungan Jadi Rebutan, Dipercaya Membawa Keberkahan

Dalam prosesi adat tersebut, Keraton Kasunanan Surakarta kembali menghadirkan sepasang Gunungan Kembar yang sarat simbol dan makna budaya.

Gunungan tersebut berisi beragam hasil bumi, mulai dari:

Sementara gunungan lainnya dipenuhi jajanan pasar, seperti:

Sebelum diarak dari keraton menuju Masjid Agung Surakarta, seluruh isi gunungan lebih dulu didoakan.

Bagi sebagian warga, mendapatkan bagian kecil dari gunungan bukan sekadar soal makanan atau hasil bumi, melainkan simbol doa dan harapan.

"Saya dapat lombok dan kacang panjang. Kebetulan saya kan pedagang sayur, lombok dan kacang panjang ini akan saya campur di tempat jualan saya biar lebih laris," ucap Tukini, warha Wonogiri yang sehari-hari dagang di Pasar Legi, Solo.

Keyakinan soal keberkahan inilah yang membuat tradisi rebutan gunungan tetap hidup lintas generasi.

Baca Juga: Video 3 Menit 21 Detik Jadi Buruan Warganet, Ini 4 Alasan Link Rok Hijau Tosca Adik-Kakak di Dapur Viral

Filosofi Gunungan Jaler dan Estri yang Sarat Makna

Di balik ramainya tradisi rebutan gunungan, Grebeg Besar menyimpan filosofi mendalam yang diwariskan turun-temurun sejak masa lampau.

Tradisi ini disebut telah hadir sejak era Kerajaan Demak dan terus dipelihara sebagai bagian penting dari budaya Jawa.

Dalam upacara tersebut dikenal konsep Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.

Masing-masing memiliki simbol berbeda yang merepresentasikan peran dalam kehidupan keluarga.

"Gunungan Jaler berisi hasil bumi, maknanya seorang laki-laki harus bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Sementara Gunungan Estri isinya makanan siap santao, maknanya seorang istri harus bisa mengolah bahan pangan untuk anak dan keluarga," terang Takmir Masjid Agung.

Makna filosofis tersebut menjadi alasan mengapa Grebeg Besar tidak hanya dipandang sebagai tontonan budaya, tetapi juga pengingat nilai kehidupan sosial dan keluarga.

Baca Juga: Ungkapan Terima Kasih Beckham Putra Iringi Kepergian Bojan Hodak dari Kursi Pelatih Persib, Sebut Punya Peran Besar Dalam Karirnya

Didahului Ritual Sakral Keraton

Sebelum prosesi Grebeg Besar berlangsung, Keraton Kasunanan Surakarta lebih dulu melaksanakan Wilujengan Sakral di Bangsal Malige bersama puluhan abdi dalem.

Ritual tersebut menjadi bagian penting sebagai bentuk doa agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

Prosesi wilujengan kembali dilakukan sebelum arak-arakan dimulai.

Menurut pihak keraton, pelestarian tradisi leluhur menjadi pesan penting yang terus dijaga hingga sekarang.

"Dawuh Sinuhun (SISKS PB XIV Purboyo) sangat jelas bahwa tradisi leluhur harus dijaga sebagai identitas budaya. Sinuwun berharap Garebeg Besar ini membawa manfaat, ketentraman, dan keberkahan bagi masyarakat," ucap Juru Bicara SISKS PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro.

Hingga kini, Grebeg Besar Idul Adha Keraton Surakarta masih menjadi salah satu agenda budaya yang paling ditunggu masyarakat, bukan hanya karena tradisi rebutan gunungannya, tetapi juga karena nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang melekat kuat di dalamnya. (ves/lz)

Editor : Laila Zakiya
#Grebeg Besar Solo #tradisi #solo