SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Riuh rendah suara khas Pasar Gawok di Desa Geneng, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo selalu menyuguhkan harmoni tersendiri.
Di antara hiruk-pikuk tawar-menawar, sayup-sayup terdengar bunyi dentang besi yang beradu konstan. Tung! Tung! Tung!
Suara itu berasal dari sudut barisan pande besi tradisional. Di tengah gempuran perkakas modern produksi pabrikan, para perajin lokal di pasar ini memilih bergeming, setia merawat api tungku dan memahat besi secara manual.
Salah satu penjaga tradisi yang masih tersisa adalah Hartono. Pria paruh baya ini telah melakoni profesi sebagai pande besi sejak tahun 1986.
Sudah empat dekade lamanya ia menghabiskan hari-hari dengan mencium aroma besi terbakar dan menantang hawa panas bara api.
“Masih banyak yang beli. Paling banyak sehari-hari ya pisau dapur,” tutur Hartono sembari menyeka keringat di dahinya, Sabtu (16/5/2026).
Di lapak sederhananya, berbagai bilah senjata tajam berjejer rapi. Mulai dari pisau kupas kecil, golok tebas, hingga pisau panjang dengan ketajaman presisi yang dipersiapkan khusus untuk penyembelihan hewan kurban.
Berkah Idul Adha: Pisau Sembelih Mulai Diburu
Bagi Hartono dan kawan-kawan seprofesinya, bulan Mei tahun ini membawa angin segar. Jelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, geliat pesanan pisau sembelih berskala besar mulai mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
Baca Juga: Awas Kena Jebakan, Link Video Viral TKW Taiwan 3 Vs 1 Bisa Bikin Nangis di Pojokan
“Kalau menjelang kurban, pisau untuk nyembelih hewan memang lebih banyak dicari,” ungkap Hartono tersenyum.
Urusan harga, Hartono mematok tarif yang relatif terjangkau untuk kualitas buatan tangan (handmade) yang kokoh. Sepotong pisau sembelih berkualitas super dibanderol mulai dari Rp125 ribu.
Sementara untuk kebutuhan memasak harian, pisau dapur buatannya dijual mulai dari harga Rp50 ribu, tergantung ukuran dan bahan baku besi yang dipesan konsumen.
Hartono sadar betul produknya harus bersaing ketat dengan pisau-pisau modern impor yang tampil lebih berkilau di etalase swalayan. Namun, ia punya rahasia tersendiri agar pelanggannya tidak lari: menjaga kualitas garapan dan memastikan ketajaman bilah pisau bertahan lama.
Baca Juga: MotoGP Catalunya 2026 Chaos! Diwarnai 2 Red Flag dan Kecelakaan Horor Alex Marquez hingga Zarco
Menapaki Jejak Riwayat "Pasar Lanang"
Eksistensi pande besi di Pasar Gawok sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang pasar itu sendiri. Terletak strategis hanya sekitar satu kilometer dari Stasiun Gawok, tempat ini dulunya kondang dengan sebutan “Pasar Lanang” atau pasarnya para laki-laki.
Julukan unik tersebut melekat karena pada zaman dahulu, mayoritas pengunjung yang datang ke pasar ini didominasi oleh kaum pria.
Mereka datang dari berbagai penjuru untuk bertransaksi alat pertanian, perkakas pertukangan, hingga hewan peliharaan.
Hingga menembus tahun 2026, denyut nadi Pasar Gawok tetap setia mengikuti kalender kebudayaan Jawa. Pasar ini hanya beroperasi penuh pada hari pasaran Pon dan Legi, serta kerap dipadati pelancong pada hari Minggu.
Baca Juga: 5 Diculik Tentara Israel Termasuk Jurnalis, Apa Tujuan Global Sumud Flotilla Berlayar?
Saat hari pasaran tiba, sejauh mata memandang Anda akan menemukan ragam komoditas unik; mulai dari bibit tanaman hias, unggas, pakaian, hingga deretan pande besi tradisional yang menempa masa depan lewat bara api yang menolak padam. (Lutfiana Sekar/AN)
Editor : Andi Aris Widiyanto