Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

70 Persen Lulusan SMPN 25 Solo Masuk Swasta, Sistem Zonasi Jadi Sorotan

Alfida Nurcholisah • Rabu, 13 Mei 2026 | 15:43 WIB
SMP Negeri 25 Solo. (Dok. Raso)
SMP Negeri 25 Solo. (Dok. Raso)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Sistem zonasi kembali menjadi sorotan dalam proses penerimaan peserta didik baru. Di SMP Negeri 25 Surakarta, sekitar 70 persen lulusan justru melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta karena dinilai kalah bersaing dalam jalur domisili sekolah negeri.

Fenomena itu terungkap dalam kegiatan Edufair yang digelar sekolah dengan menghadirkan 18 SMA dan SMK swasta di Kota Solo.

Kegiatan tersebut ditujukan untuk membuka lebih banyak pilihan pendidikan bagi siswa kelas 9 dan para orang tua.

Baca Juga: Kepala MTs Muhammadiyah Mangkir dari DPRD, Komisi IV Sentil Pemerintah Baru Bergerak Setelah Bencana

Ketua Pelaksana Edufair, Deri Hantoro, mengatakan mayoritas lulusan SMPN 25 selama ini memang berakhir di sekolah swasta. Hanya sebagian kecil yang berhasil diterima di SMA atau SMK negeri.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dibanding sebelum sistem zonasi diberlakukan.

“Kalau dulu seleksinya berdasarkan nilai, sekitar 60 persen siswa kami bisa masuk negeri. Begitu ada aturan zonasi, kami kalah oleh jarak,” ujarnya, Rabu (13/5).

Deri menjelaskan, banyak siswa SMPN 25 berasal dari luar Surakarta sehingga tidak memiliki keuntungan domisili dalam proses seleksi penerimaan siswa baru. Selain itu, letak sekolah yang berada di kawasan Solo barat daya dinilai kurang strategis terhadap keberadaan SMA dan SMK negeri.

Baca Juga: Tersentuh Loyalitas Suporter, Milo Tegaskan Persis Solo Wajib Bayar dengan Kemenangan

“Ini jadi satu-satunya opsi bagi mereka yang rumahnya jauh dari sekolah negeri,” katanya.

Melalui Edufair tersebut, pihak sekolah mencoba mempertemukan siswa dan orang tua dengan berbagai SMA dan SMK swasta agar informasi terkait jurusan, fasilitas, hingga peluang pendidikan dapat tersampaikan lebih luas.

Deri menegaskan kegiatan itu bukan bentuk persaingan antara sekolah swasta dan negeri. Sebab, kapasitas sekolah negeri dinilai memang belum mampu menampung seluruh lulusan SMP dan MTs setiap tahun.

“Semua lulusan SMP dan MTs negeri itu tidak akan tertampung di SMA-SMK negeri karena jumlah lulusannya lebih besar. Maka sekolah swasta punya peran penting,” jelasnya.

Tahun ini terdapat 18 SMA dan SMK swasta yang menjadi mitra Edufair SMPN 25 Surakarta. Sejumlah sekolah yang paling diminati siswa di antaranya SMK Batik 1 Surakarta, SMK Bhinneka Karya, dan SMK Sahid Surakarta karena memiliki karakteristik jurusan berbeda.

Sementara itu, salah satu wali murid asal Manahan, Wiwit, mengaku sekolah swasta kini menjadi pilihan realistis bagi anaknya apabila gagal diterima di sekolah negeri.

Baca Juga: Tersentuh Loyalitas Suporter, Milo Tegaskan Persis Solo Wajib Bayar dengan Kemenangan

“Kalau enggak diterima kan swasta bisa jadi opsi, ini sebagai pandangan kita kalau enggak masuk di negeri,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku domisilinya masih dekat dengan SMA Negeri 4 Surakarta sehingga peluang masuk sekolah negeri tetap terbuka.

“Saya enggak menutup kemungkinan anak saya masuk swasta, karena sekolah negeri peminatnya banyak sekali,” pungkasnya. (alf/an)

 
 
 
Editor : Andi Aris Widiyanto
#sistem zonasi #SMP Negeri 25 Surakarta #sekolah swasta #edufair #SMK Swasta di Kota Solo