SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen buka suara terkait musibah robohnya atap gedung MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan yang terjadi di Dukuh Bulu, Desa Karanganyar, Selasa (12/5) pagi.
Minimnya anggaran serta aturan jumlah minimal siswa disebut menjadi kendala utama sekolah tersebut belum mendapatkan bantuan renovasi meski kondisi bangunan telah lama terpantau rusak.
Baca Juga: Atap MTsM Bulu Sragen Ambruk Saat KBM, 8 Korban Dilarikan ke RSUD
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Sragen, Witono, menjelaskan bahwa pemantauan kondisi bangunan madrasah sebenarnya dilakukan secara rutin setiap awal tahun pelajaran. Data kerusakan bangunan, baik ringan maupun berat, disebut telah masuk dalam sistem pendataan resmi.
“Kalau pemantauan sebetulnya kami rutin. Awal tahun pelajaran kami sudah meminta data gedung yang rusak, dan itu sudah ada dalam pendataan kami. Kami juga memiliki aplikasi SIMSARPRAS (Sistem Informasi Sarana dan Prasarana), di mana madrasah yang rusak silakan mengajukan bantuan lewat sana,” ujar Witono.
Ia mengungkapkan, gedung MTs Muhammadiyah 4 sebelumnya sudah sempat disurvei tim dari Dinas Pekerjaan Umum melalui program Project Implementation Unit (PIU).
Secara teknis, bangunan tersebut dinilai layak menerima bantuan rehabilitasi. Namun, bantuan gagal direalisasikan lantaran jumlah siswa tidak memenuhi syarat minimal penerima bantuan.
“Sudah disurvei dari tim, secara sarpras memenuhi syarat untuk mendapat bantuan. Namun, ada kriteria siswa minimal harus di atas 100 orang, sedangkan di sekolah tersebut siswanya hanya 51 orang. Akhirnya tidak jadi (mendapat bantuan), tidak menjadi prioritas,” jelasnya.
Pasca-kejadian, Kemenag Sragen berencana mengumpulkan seluruh kepala madrasah untuk melakukan pengecekan ulang kondisi fisik bangunan sekolah masing-masing. Langkah tersebut dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang di puluhan madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag Sragen.
“Kami akan segera rapat dengan kepala-kepala madrasah untuk memastikan mereka mengecek kembali kondisi sarana dan prasarananya,” tambahnya.
Terkait kegiatan belajar mengajar (KBM), Kemenag memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dengan sistem relokasi sementara. Ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang telah selesai digunakan siswa kelas akhir bakal dimanfaatkan sementara oleh siswa MTs.
“Karena kelas 6 di MI sudah selesai, nanti siswa MTs bisa menggunakan ruang kelas tersebut untuk sementara waktu karena letaknya berdekatan,” pungkas Witono.
Komisi IV DPRD Sragen Bakal Panggil Kemenag
Insiden ambruknya atap ruang kelas MTs Muhammadiyah 4 juga memicu reaksi keras dari DPRD Kabupaten Sragen. Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Sugiyamto, menyayangkan kejadian yang menyebabkan tujuh siswa dan satu guru mengalami luka-luka tersebut.
Baca Juga: DPRD Solo Matangkan Raperda Digitalisasi PAD, Kebocoran Pendapatan Jadi Sorotan
Politikus PDI Perjuangan itu menilai ada unsur kelalaian dalam pengawasan kondisi bangunan sekolah. Menurutnya, pihak sekolah seharusnya lebih jeli memantau usia dan kelayakan gedung sebelum digunakan untuk KBM.
“Kejadian ini menunjukkan kepala sekolah kurang teliti. Seharusnya bisa mengukur umur bangunan, kapan harus direnovasi itu harus jeli. Karena robohnya saat jam pelajaran dan ada korban, ini bentuk kecerobohan dalam mengawasi kondisi bangunan sekolah,” ujar Sugiyamto.
Sebagai tindak lanjut, Komisi IV DPRD Sragen menjadwalkan pemanggilan terhadap pihak sekolah dan Kemenag Sragen untuk meminta klarifikasi terkait insiden tersebut.
DPRD juga mendesak dilakukan verifikasi menyeluruh terhadap kondisi sekolah negeri maupun swasta di bawah naungan Kemenag dan Dinas Pendidikan.
“Kita panggil besok untuk verifikasi menyeluruh. Kita tidak ingin siswa merasa was-was atau dihantui rasa takut saat belajar. Kejadian sekolah roboh ini sudah pernah terjadi sebelumnya, harus ada penanganan cepat,” tegasnya.
Sugiyamto juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran dari pemerintah pusat untuk renovasi sekolah-sekolah tua yang mengalami kerusakan berat.
“Data sekolah yang sudah tua harus segera diverifikasi ulang. Pemerintah pusat harus menengok bahwa anggaran kita memang masih kurang untuk urusan ini. Bantuan pusat sangat kita harapkan agar anggaran mendesak seperti renovasi ruang kelas bisa segera direalisasikan,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, atap ruang kelas di MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Delapan korban terdiri dari tujuh siswa dan satu guru langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto