SUKOHARJO, SOLOBALAPAN.COM – Persoalan sampah di sekitar Pasar Gawok kembali mencuat, namun kali ini dengan nada yang lebih tajam dari warga.
Dalam forum Safari Kamtibmas yang digelar di Pendopo Kecamatan Gatak, masalah lingkungan justru mengalahkan isu kriminalitas yang seharusnya menjadi fokus utama kegiatan tersebut.
Tumpukan sampah di aliran sungai sekitar pasar disebut bukan persoalan baru. Warga menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya pengawasan sekaligus tidak optimalnya sistem pengelolaan sampah di tingkat lokal.
Baca Juga: Udah Gak Searah? Biar Lagu Kusut – Fourtwenty yang Bantu Beresin Sisa-Sisa Harapanmu yang Berantakan
Keluhan yang mengemuka tak hanya soal perilaku masyarakat, tetapi juga menyasar minimnya fasilitas pembuangan yang memadai.
Situasi ini membuka celah terjadinya pelanggaran yang terus berulang—bahkan disebut melibatkan oknum dari luar wilayah yang bebas membuang limbah ke sungai tanpa konsekuensi jelas.
Masalah Lama, Respons Berulang
Wakapolres Sukoharjo, AKBP Pariastutik, yang hadir mewakili Kapolres menyatakan forum Safari Kamtibmas menjadi ruang menyerap aspirasi warga, termasuk persoalan sampah yang berpotensi mengganggu ketertiban.
Namun, pernyataan normatif tersebut dinilai belum menjawab akar persoalan. Pasalnya, keluhan serupa disebut sudah berulang kali disampaikan dalam berbagai forum, tetapi belum menghasilkan perubahan signifikan di lapangan.
“Silakan disampaikan permasalahan yang ada. Kami akan tindak lanjuti bersama instansi terkait,” ujarnya.
Baca Juga: Daftar Harga Lengkap BBM Diesel Pertamina di Seluruh Wilayah Indonesia
Pengakuan Pemerintah: Masalah Serius, Solusi Belum Konkret
Camat Gatak, Wanto, mengakui persoalan sampah telah menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Selain merusak lingkungan, kondisi tersebut juga berpotensi memicu banjir akibat tersumbatnya aliran air.
Namun, solusi yang ditawarkan masih berkutat pada peningkatan kesadaran masyarakat dan wacana iuran pengelolaan sampah—pendekatan yang selama ini dinilai belum cukup efektif.
“Kesadaran masyarakat sangat penting. Perlu juga sistem pengelolaan yang jelas,” katanya.
Pelanggaran Terjadi, Penindakan Dipertanyakan
Kepala Desa Geneng, Suprapti, menyebut berbagai upaya seperti pemasangan imbauan dan sosialisasi sudah dilakukan. Namun fakta di lapangan menunjukkan pelanggaran masih terus terjadi.
Baca Juga: Maling Bobol Atap Alfamart di Boyolali, CCTV Diamankan Polisi untuk Ungkap Pelaku
Pernyataan bahwa pelaku pembuangan sampah berasal dari luar desa justru memunculkan pertanyaan baru: sejauh mana pengawasan lintas wilayah dilakukan, dan siapa yang bertanggung jawab menindak pelanggaran tersebut?
“Sudah kami ingatkan, tapi masih ada yang buang sampah sembarangan,” ujarnya.
Solusi Alternatif Muncul, Implementasi Jadi Tantangan
Di tengah kebuntuan, Kepala Desa Trangsan, Mujiman, mengusulkan pengelolaan sampah melalui BUMDes agar lebih terorganisir sekaligus bernilai ekonomi.
Meski terdengar menjanjikan, usulan ini masih membutuhkan komitmen lintas sektor, pendanaan, serta pengawasan yang konsisten agar tidak berhenti sebagai wacana semata.
Isu Lain: Kecelakaan Lalu Lintas Juga Disorot
Selain persoalan sampah, warga juga menyinggung tingginya angka kecelakaan lalu lintas di ruas Klewer–Stasiun Gawok. Minimnya penerangan dan rambu lalu lintas disebut menjadi faktor utama.
Menanggapi hal tersebut, pihak kepolisian menyatakan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: Terungkap! Guru SMP di Wonogiri Diduga Cabuli Siswi, Aksi Terekam dan Chat Tak Senonoh Beredar
Kasus sampah di sungai sekitar Pasar Gawok memperlihatkan pola klasik: masalah berulang, solusi normatif, dan minimnya penegakan aturan.
Tanpa langkah konkret yang terukur—mulai dari penyediaan fasilitas, pengawasan ketat, hingga sanksi tegas—persoalan ini berpotensi terus menjadi keluhan tahunan tanpa penyelesaian nyata. (kwl/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto