BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM — Kebakaran yang melanda rumah warga di Dukuh Kedung Banteng, Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Selasa (5/5), kembali mengingatkan risiko aktivitas pembakaran terbuka yang kerap dianggap sepele.
Rumah milik Hadi Mulyono (61) terbakar saat dalam kondisi kosong, ditinggal pemilik ke ladang sekitar pukul 10.00 WIB. Api menghanguskan bagian dapur berukuran sekitar 4x4 meter serta merembet ke sebagian ruang tengah.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, sejumlah peralatan rumah tangga, termasuk perlengkapan yang digunakan untuk berdagang, ikut terbakar.
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Sukoharjo Sasar Keluarga Miskin Ekstrem, Validasi Data Jadi Kunci
Api Diduga Berasal dari Pembakaran Kayu
Kepala Seksi Pemadam Kebakaran Satpol PP Boyolali, Jati Patitis, mengungkapkan bahwa kebakaran diduga dipicu aktivitas pembakaran kayu di belakang rumah.
“Kayu yang dibakar itu mengenai potongan karet dari kabel, lalu api merembet ke dapur,” jelasnya.
Pola kejadian ini menunjukkan bagaimana api yang awalnya terkendali dapat berubah menjadi kebakaran serius ketika bersentuhan dengan material mudah terbakar, terutama dalam kondisi tanpa pengawasan.
Saksi Sempat Mengira Aktivitas Biasa
Saksi mata sekaligus tetangga korban, Maryadi, awalnya tidak menyadari bahwa kebakaran sedang terjadi. Ia mengira suara yang didengar berasal dari aktivitas pembakaran biasa.
“Saya kira orang bakar bambu, tapi ternyata api sudah besar,” ujarnya.
Saat mendekat, ia mendapati rumah dalam kondisi kosong dan hanya terlihat asap tebal. Ia kemudian berinisiatif mencari bantuan warga sekitar.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa deteksi awal kebakaran di lingkungan permukiman masih sangat bergantung pada respons spontan warga.
Respons Cepat, Tapi Api Telanjur Membesar
Laporan kebakaran diterima petugas sekitar 30 menit setelah kejadian. Saat tim pemadam tiba di lokasi, bagian belakang rumah sudah dalam kondisi hangus terbakar.
Proses pemadaman dan pendinginan berlangsung relatif cepat, sekitar 15 menit. Meski demikian, keterlambatan laporan menjadi faktor yang memperbesar dampak kerusakan.
Baca Juga: Alarm Infrastruktur Pendidikan di Karanganyar, Gedung SDN 1 Girilayu Roboh Setelah Lama Tanpa Rehab
Kebiasaan Berisiko yang Berulang
Pemilik rumah mengakui sempat menyalakan api untuk membakar kayu sebelum pergi ke ladang. Aktivitas tersebut, menurut petugas, kerap dilakukan warga dan biasanya tidak menimbulkan masalah—hingga pada kondisi tertentu berubah menjadi bencana.
“Biasanya tidak terjadi apa-apa, tapi kali ini merembet saat rumah kosong,” kata Jati.
Kejadian ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan terhadap sumber api terbuka, terutama di area yang berdekatan dengan material mudah terbakar.
Kerugian Masih Didata
Baca Juga: Scoopy Punya Adik? Irit dan Punya Pilihan Warna Lucu, Honda Giorno 2026 Bawa Desain Retro Modern!
Hingga saat ini, petugas masih melakukan pendataan terkait total kerugian yang dialami korban. Sementara itu, warga diminta lebih waspada terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, sekecil apa pun sumbernya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kelalaian kecil dapat berujung pada kerugian besar—terlebih ketika terjadi di saat tidak ada orang di lokasi. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto