KARANGANYAR, SOLOBALAPAN.COM — Insiden ambruknya atap bangunan di SD Negeri 1 Girilayu, Kecamatan Matesih, Selasa pagi (5/5) kembali menyoroti persoalan klasik infrastruktur pendidikan yang kerap luput dari perhatian.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 07.15 WIB itu tidak menimbulkan korban jiwa. Pihak sekolah sebelumnya telah mengosongkan ruangan setelah mendeteksi adanya kerusakan serius pada struktur bangunan.
Namun, fakta bahwa bangunan bisa mencapai titik ambruk justru memunculkan pertanyaan lebih besar: sejauh mana pengawasan dan perawatan fasilitas pendidikan dilakukan?
Baca Juga: FPTI Solo Resmi Berganti Nahkoda, Target Juara Umum Porprov 2026 Langsung Dicanangkan
Tanda Kerusakan Sudah Lama Muncul
Kepala SDN 1 Girilayu, Warsito, mengungkapkan bahwa gejala kerusakan sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Retakan pada bagian atap menjadi indikator awal adanya penurunan kekuatan struktur.
“Sejak awal sudah terlihat retak-retak di bagian atap. Dan hari ini akhirnya terjadi ambruk,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Keputusan untuk mengosongkan ruangan memang terbukti tepat dan mencegah potensi korban. Namun, kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa risiko sudah terdeteksi jauh sebelum kejadian, tetapi belum diikuti dengan penanganan menyeluruh.
Diduga Tak Pernah Direhabilitasi
Bangunan yang ambruk diketahui merupakan salah satu ruang yang memiliki fungsi penting, khususnya untuk kegiatan ekstrakurikuler karawitan. Kini, seluruh aktivitas tersebut terpaksa dihentikan akibat tidak adanya ruang alternatif.
Lebih jauh, pihak sekolah mengakui bahwa bangunan tersebut telah berdiri selama puluhan tahun tanpa pernah mendapatkan rehabilitasi besar.
“Sudah lama sekali, dan memang belum pernah ada rehab sampai sekarang,” tegas Warsito.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa faktor usia bangunan dan minimnya perawatan menjadi penyebab utama runtuhnya struktur atap.
Sorotan pada Tata Kelola Infrastruktur
Insiden ini bukan sekadar kejadian teknis, melainkan cerminan persoalan sistemik dalam pengelolaan infrastruktur pendidikan. Ketika tanda-tanda kerusakan sudah muncul namun tidak segera ditindaklanjuti dengan rehabilitasi, risiko keselamatan menjadi taruhannya.
Pihak sekolah mengaku telah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pendidikan. Namun, hingga bangunan ambruk, belum ada intervensi fisik yang dilakukan.
Area reruntuhan saat ini masih dibatasi untuk menghindari bahaya lanjutan, terutama bagi siswa yang tetap menjalani aktivitas belajar di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Sertifikat Mualafnya Dicabut, Bagaimana Nasib Agama dr. Richard Lee?
Menunggu Respons Cepat
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan dalam lingkungan pendidikan tidak bisa ditunda. Diperlukan respons cepat, tidak hanya dalam penanganan pascakejadian, tetapi juga dalam pemetaan kondisi bangunan sekolah secara menyeluruh.
Jika tidak, kejadian serupa berpotensi terulang—dengan risiko yang mungkin tidak lagi sekadar “nyaris” (rud/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto