BOYOLALI, SOLOBALAPAN.COM – Menjelang Iduladha 1447 H, pemerintah daerah memastikan ketersediaan hewan kurban dalam kondisi aman.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali menyebut stok ternak mencukupi kebutuhan masyarakat, meski tren pemotongan diprediksi meningkat signifikan.
Pelaksana Tugas Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, mengatakan proyeksi kebutuhan tahun ini tidak jauh berbeda dari realisasi tahun sebelumnya.
Baca Juga: 200 Atlet Klaten Jalani Tes Fisik, KONI Pantau Kesiapan Menuju Porprov
“Berdasarkan data 2025, kebutuhan 2026 diperkirakan relatif sama. Artinya, stok masih dalam kondisi aman,” ujarnya, Senin (4/5).
Pada 2025, jumlah pemotongan hewan kurban tercatat mencapai 6.647 ekor sapi, 16.384 kambing, dan 850 domba. Sementara dari sisi populasi, ketersediaan ternak dinilai masih mampu memenuhi permintaan.
Lonjakan di RPH Ampel
Meski secara umum stabil, lonjakan justru diprediksi terjadi di fasilitas pemotongan resmi. Di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ampel, jumlah pemotongan hewan kurban diperkirakan meningkat hingga 300 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan ini diduga berkaitan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pemotongan yang lebih higienis dan terstandar, serta dorongan pengawasan kesehatan hewan yang semakin ketat.
Pengawasan Penyakit Hewan Diperketat
Untuk memastikan hewan kurban aman dari penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), dan antraks, Disnakkan menyiapkan sejumlah langkah pengawasan.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan di lokasi pengepul menjelang hari raya, melibatkan petugas kesehatan hewan dan unit pelaksana teknis puskeswan. Selain itu, pemeriksaan antemortem juga dilakukan sebelum penyembelihan.
Baca Juga: Saat Dunia Menutup Pintu, Solo Gelar PON Pertama untuk Jaga Harga Diri Bangsa
Tak hanya itu, pengambilan sampel acak juga dilakukan bekerja sama dengan laboratorium veteriner provinsi untuk mendeteksi potensi penyakit secara dini.
“Pengujian meliputi pemeriksaan cacing hati serta uji klinis PMK dan parasit darah,” jelas Gojali.
Vaksinasi dan Pengawasan Lalu Lintas
Upaya pencegahan juga diperkuat melalui vaksinasi. Hingga akhir April 2026, vaksinasi PMK di Boyolali telah mencapai 9.727 dosis dan ditargetkan menembus 16 ribu dosis.
Sementara vaksinasi LSD dilakukan secara selektif di daerah rawan, dan vaksinasi antraks difokuskan di wilayah endemis seperti Klego, Ampel, Nogosari, dan Simo.
Di sisi lain, pengawasan lalu lintas ternak dilakukan melalui pemeriksaan di pasar hewan dan penerbitan dokumen kesehatan melalui sistem digital.
Untuk distribusi ternak antar daerah, pengawasan berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi guna memastikan pergerakan hewan tetap sesuai standar kesehatan.
Antisipasi Lonjakan Permintaan
Dengan tren peningkatan pemotongan, terutama di rumah potong hewan resmi, pemerintah daerah menilai kesiapan sistem pengawasan menjadi faktor kunci.
Ketersediaan stok yang cukup harus diimbangi dengan jaminan kesehatan hewan, agar pelaksanaan kurban tidak hanya terpenuhi secara kuantitas, tetapi juga aman bagi masyarakat. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto