SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Pagi baru saja dimulai di bantaran Kali Anyar, namun puluhan orang sudah turun ke aliran sungai.
Bukan sekadar kerja bakti biasa—ini adalah pertemuan antara gerakan global dan kekuatan lokal dalam melawan persoalan sampah.
Tiga bersaudara pendiri Sungai Watch, Kelly, Sam, dan Gary Bencheghib, hadir langsung memimpin aksi bersih sungai yang digelar Selasa (28/4). Bersama mereka, Pemerintah Kota Surakarta mengerahkan armada, petugas, hingga relawan lintas sektor.
Sejak pukul 07.00 WIB, aktivitas sudah terlihat intens. Relawan, petugas kebersihan, hingga personel TNI bahu-membahu mengangkat sampah yang tersangkut di bantaran sungai—sebuah pemandangan yang memperlihatkan bahwa persoalan sampah masih nyata, bahkan di kota yang dikenal relatif bersih.
Dukungan Penuh Pemkot
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung gerakan semacam ini.
“Kelurahan, kecamatan, masyarakat, DLH, hingga TNI ikut terlibat. Kami memberikan support terbaik untuk kegiatan yang bermanfaat bagi kota,” ujarnya di lokasi.
Baca Juga: Merintis di Trotoar Kota, Pelaku UMKM Keluhkan “Iuran Misterius” di City Walk Solo
Dukungan ini bukan hanya simbolis. Armada pengangkut sampah disiapkan, koordinasi lintas instansi dilakukan, hingga pelibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan aksi.
Gerakan Global, Dampak Lokal
Bagi Sam Bencheghib, kolaborasi ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah cepat—bahkan dari pertemuan yang terbilang singkat.
“Terima kasih, kami bisa bergerak bersama. Kemarin kami sempat bertemu wali kota, walau singkat tapi semangatnya luar biasa,” ungkapnya.
Pertemuan yang dimaksud terjadi sehari sebelumnya, saat Wali Kota Respati Ardianto menyapa langsung tim Sungai Watch di Lor Inn Hotel. Dari momen singkat itu, lahir aksi nyata di lapangan keesokan harinya.
Masalah yang Belum Selesai
Meski Solo dikenal sebagai kota dengan pengelolaan sungai yang cukup baik, fakta di lapangan menunjukkan bahwa persoalan sampah belum sepenuhnya tuntas.
Tumpukan sampah yang tersangkut di bantaran Kali Anyar menjadi pengingat bahwa perilaku masyarakat masih menjadi tantangan utama.
“Mayoritas sungai di Solo memang sudah bersih, tapi kita tetap perlu menyadarkan masyarakat,” kata Respati.
Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Aksi ini bukan hanya soal mengangkat sampah dari sungai. Lebih dari itu, ini adalah pesan kuat bahwa penanganan lingkungan membutuhkan kolaborasi—antara pemerintah, komunitas, hingga gerakan internasional.
Baca Juga: Solo Menari Libatkan Ribuan Peserta, Kawasan Balaikota Dipastikan Lumpuh Sementara
Kehadiran Sungai Watch di Solo memperlihatkan bahwa isu lingkungan tak mengenal batas wilayah.
Dan di tengah arus sungai yang terus mengalir, satu hal menjadi jelas: perubahan tidak datang dari satu pihak saja, melainkan dari gerakan bersama yang konsisten. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto