SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Euforia perayaan Hari Tari Dunia 2026 di Surakarta dipastikan akan menyedot perhatian besar.
Namun di balik kemeriahan itu, ada konsekuensi yang tak bisa dihindari: kepadatan lalu lintas di jantung kota.
Event Solo Menari 2026 yang digelar di kawasan Balaikota Surakarta diprediksi menghadirkan lebih dari 1.700 penari dalam satu panggung kolosal.
Jumlah tersebut belum termasuk ribuan penonton yang diperkirakan memadati area sekitar.
Dengan skala sebesar itu, kawasan Balaikota dipastikan akan ditutup sementara.
Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Andri Wahyudi, menyebut penutupan dilakukan sejak pukul 13.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB pada Kamis (29/4). Bahkan, dampaknya sudah terasa sejak sehari sebelumnya saat gladi bersih digelar.
“Kawasan Balaikota akan ditutup saat acara dan juga saat gladi resik,” ujarnya.
Tiga Titik Krusial Ditutup
Baca Juga: Bongkar Aset Sekolah di Sragen Waktu Tengah Malam, Duo Pencuri Chromebook Dibekuk Kurang dari 24
Penutupan tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan meliputi beberapa ruas strategis di pusat kota. Di antaranya:
-
Jalan Jenderal Sudirman (Simpang Bank Indonesia – Balaikota)
-
Jalan Arifin (Simpang Radio PTPN – Balaikota)
-
Kawasan Pasar Gede hingga depan Balaikota
Ruas-ruas tersebut merupakan jalur vital yang biasa dilalui kendaraan dari berbagai arah. Penutupan ini berpotensi memicu kepadatan di titik-titik alternatif jika tidak diantisipasi sejak awal.
Rekayasa Lalu Lintas Disiapkan
Untuk mengurai kemacetan, Dishub telah menyiapkan skema pengalihan arus. Kendaraan dari arah selatan diarahkan memutar melalui Jalan Ronggowarsito, sementara dari arah utara dialihkan melalui Jalan RE Martadinata.
Petugas juga akan disiagakan di sejumlah titik untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu pengguna jalan.
“Satu jam sebelum kegiatan mulai, pengalihan lalu lintas sudah kami lakukan,” jelas Andri.
Antusias Tinggi, Dampak Ikut Membesar
Tingginya partisipasi dalam Solo Menari menjadi indikator kuat bahwa event ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan magnet wisata budaya.
Namun di sisi lain, lonjakan massa juga berbanding lurus dengan potensi kemacetan, terutama di kawasan padat seperti pusat kota.
Dishub memperkirakan jumlah penonton bisa berkali lipat dari jumlah peserta.
Parkir Disiapkan, Warga Diminta Tertib
Untuk mengakomodasi pengunjung, sejumlah titik parkir telah disiapkan, antara lain di kawasan Benteng Vastenburg, Gedung Parkir Ketandan, hingga Taman Parkir Loji Wetan.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta mengikuti arahan petugas di lapangan agar tidak menambah kepadatan.
Baca Juga: Detik-Detik Maut di Simpang Sempit Wonogiri, Kernet Tewas Tergencet Truk
Lebih dari Sekadar Tarian
Tahun ini, Solo Menari mengusung tema “Aku Kipas (Aha Pankha)”, yang memaknai kipas sebagai simbol kreativitas dan persatuan lintas budaya.
Rangkaian acara akan dimulai sejak pagi hari dengan pentas tari di Pendopo Balaikota, sebelum puncak pertunjukan kolosal digelar siang hari.
Di balik gerak tari yang serempak, kota pun ikut “bergerak”—mengatur ritme antara budaya dan mobilitas.
Bagi warga yang tidak memiliki kepentingan di lokasi, satu pilihan paling aman adalah menghindari kawasan Balaikota untuk sementara waktu.
Karena saat ribuan penari menguasai jalanan, ruang kota pun berubah menjadi panggung besar—dan lalu lintas harus menyesuaikan diri.
Editor : Andi Aris Widiyanto