SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Pemerintah Kota Surakarta menggenjot upaya penanganan Tuberkulosis (TB) melalui strategi terpadu, mulai dari pelacakan kontak (tracing) hingga rencana perbaikan hunian pasien. Langkah ini dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Rabu (22/4).
Dalam kegiatan cek kesehatan gratis di wilayah Jebres, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyatakan bahwa program ini merupakan tindak lanjut arahan pemerintah pusat untuk menekan angka kasus TB yang masih cukup tinggi.
“Ini salah satu program prioritas dari Kementerian Kesehatan. Kami melakukan intervensi, terutama bagi keluarga dan kontak erat pasien TB,” ujarnya.
Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga menyasar faktor lingkungan. Pemkot berencana memperbaiki rumah tidak layak huni milik pasien TB, dengan asumsi bahwa kondisi hunian berpengaruh terhadap proses penyembuhan sekaligus potensi penularan.
Namun, kebijakan ini memunculkan tantangan tersendiri: sejauh mana intervensi berbasis perbaikan fisik rumah mampu berjalan konsisten dan tepat sasaran, mengingat keterbatasan anggaran dan kompleksitas verifikasi penerima manfaat.
“Kami komitmen mendampingi pasien sampai sembuh. Obatnya panjang dan tidak boleh putus. Sekaligus rumah tidak layak huni akan kami benahi,” tegas Respati.
Pendanaan program disebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari APBD, CSR, hingga dukungan pemerintah provinsi dan pusat. Meski demikian, skema kolaborasi multi-sumber ini juga menuntut koordinasi yang solid agar tidak berhenti pada tataran wacana.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga Maret 2026 tercatat sedikitnya 405 kasus TB di Kota Solo. Angka ini menunjukkan bahwa penanganan TB masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah.
Sebagai respons, Pemkot melakukan tracing massal terhadap 100 orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB, melalui program cek kesehatan gratis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Retno Erawati, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi percepatan penemuan kasus sekaligus pencegahan penyebaran.
“Tracing kami integrasikan dengan layanan cek kesehatan gratis. Kontak erat yang terindikasi akan langsung diberikan pengobatan sesuai standar Kementerian Kesehatan,” jelasnya.
Meski langkah tracing dan skrining massal dinilai progresif, efektivitasnya sangat bergantung pada keberlanjutan pengobatan pasien—yang dalam kasus TB membutuhkan waktu panjang dan kedisiplinan tinggi. Tanpa pengawasan ketat, risiko putus obat dapat memicu resistensi dan memperparah penyebaran.
Baca Juga: Tuhan Maha Asyik, Jawaban Buat Kamu yang Mencoba Memaknai Tuhan dengan Cara yang Lebih Sederhana
Selain itu, pendekatan berbasis proyek seperti cek kesehatan gratis kerap menuai kritik karena dinilai belum menyentuh akar persoalan, seperti kepadatan hunian, sanitasi, dan kesadaran masyarakat.
Dengan kombinasi intervensi medis dan sosial, Pemkot Surakarta kini diuji untuk tidak hanya menekan angka kasus secara statistik, tetapi juga memastikan kebijakan yang dijalankan benar-benar berdampak jangka panjang.
Jika tidak dikelola secara konsisten dan terintegrasi, upaya besar ini berisiko menjadi program seremonial tanpa perubahan signifikan di lapangan. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto