SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Keputusan Pemerintah Kota Surakarta menutup sementara sejumlah lapangan sepak bola berstandar internasional memunculkan pertanyaan baru: seberapa optimal perawatan fasilitas olahraga di Kota Solo selama ini?
Penutupan ini tidak hanya berlaku untuk Stadion Manahan, tetapi juga sejumlah lapangan lain seperti kawasan Banyuanyar, Sriwaru, Kotta Barat, hingga Sriwedari.
Baca Juga: Pesepeda Perempuan di Solo Suarakan Jalan Aman, Jalur Sepeda Dinilai Masih Abai
Langkah ini diambil bersamaan dengan rencana perbaikan menyeluruh, terutama pada sistem drainase dan kualitas rumput lapangan.
Masalah ini mencuat setelah munculnya genangan air di Stadion Manahan saat laga Persis Solo melawan Semen Padang beberapa waktu lalu—sebuah insiden yang memperlihatkan bahwa standar internasional belum sepenuhnya diimbangi dengan perawatan yang konsisten.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyebut bahwa banyaknya lapangan berkualitas di Solo justru menjadi tantangan tersendiri dalam hal pemeliharaan.
“Banyak sekali yang harus dirawat. Dari Liga 1 sampai Liga 4 ada di Solo, jadi harus kita jaga bersama,” ujarnya, Minggu (19/4).
Namun pernyataan tersebut sekaligus menggarisbawahi persoalan klasik: tingginya intensitas penggunaan tidak selalu diimbangi dengan sistem perawatan yang memadai.
Rencananya, perawatan Stadion Manahan baru akan dilakukan setelah kompetisi Liga 1 berakhir pada 16 Mei mendatang. Fokus utama adalah pembenahan sistem drainase dan infiltrasi air pada lapisan rumput—dua aspek krusial yang seharusnya menjadi standar dasar stadion modern.
Baca Juga: 13 Desa di Wonogiri Masih Tanpa Lahan Koperasi, Program Dikebut Tapi Tersendat di Akar Masalah
Selama proses tersebut, aktivitas non-kompetisi seperti fun match akan dibatasi. Kebijakan ini diambil untuk menghindari kerusakan lebih lanjut akibat beban penggunaan yang berlebih.
“Pembongkaran butuh waktu sekitar dua bulan, jadi harus dilakukan saat off season agar hasilnya maksimal,” jelas Respati.
Di sisi lain, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) mengakui adanya persoalan teknis yang selama ini terjadi, salah satunya adalah pemadatan tanah yang menghambat daya resap air.
Kepala Bidang Olahraga Dispora Surakarta, Syamsu Rohman, menyebut intensitas penggunaan lapangan—terutama di akhir pekan—menjadi salah satu penyebab utama.
“Kalau Sabtu-Minggu sering dipakai fun football, itu membuat tanah jadi padat. Makanya perlu dikurangi,” ungkapnya.
Pernyataan ini mempertegas bahwa persoalan bukan hanya pada faktor teknis, tetapi juga manajemen penggunaan fasilitas. Tanpa pengaturan yang jelas antara kebutuhan kompetisi dan aktivitas publik, kualitas lapangan sulit dijaga dalam jangka panjang.
Penutupan sementara ini bisa menjadi momentum evaluasi. Sebab, label “berstandar internasional” tidak cukup hanya pada fasilitas fisik, tetapi juga harus diikuti dengan sistem perawatan, pengelolaan, dan disiplin penggunaan yang konsisten.
Baca Juga: Harga Pertamax Dex Tembus Rp23.900, Pemilik Fortuner dan Pajero Sport Siap-siap Elus Dada
Jika tidak, kejadian genangan di stadion utama bisa kembali terulang—dan standar yang dibanggakan hanya tinggal sebutan tanpa makna nyata. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto