SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Dari tanah lapang sederhana di pelosok desa, mimpi besar kembali dipanggungkan.
Askab PSSI Sragen resmi menggelar Piala U-11, sebuah ajang pencarian bakat yang diharapkan melahirkan “Dava-Dava” baru dari Bumi Sukowati.
Nama Dava Yunna Adi Putra kini menjelma simbol harapan. Bersinar bersama Persebaya Junior dan menjadi bagian dari Timnas U-17 di ajang ASEAN U-17 Boys Championship 2026, perjalanan Dava menjadi bukti: Sragen tak pernah kehabisan amunisi talenta.
Dari SSB kecil hingga panggung internasional, kisahnya adalah bahan bakar semangat bagi generasi berikutnya.
“Ini bukan sekadar turnamen, ini panggung lahirnya bintang. Kami ingin menemukan Dava-Dava baru yang siap bersaing di level tertinggi,” tegas Wardoyo Pengurus Bidang Pembinaan usia Dini Askab PSSI Sragen.
Memasuki edisi keenam, Piala Askab U-11 akan mulai bergulir pada 17 Mei mendatang. Sebanyak 20 tim SSB sudah memastikan ambil bagian—angka yang mencerminkan tingginya gairah sepak bola usia dini di Sragen.
Yang membuat kompetisi ini berbeda: formatnya bukan turnamen kilat. Dengan sistem tour series, para pemain muda akan bertarung dari satu kecamatan ke kecamatan lain—Kedawung, Sumberlawang, Gemolong, Tanon, hingga Karangmalang—selama 5 hingga 6 bulan.
Setiap laga adalah ujian. Setiap lapangan adalah medan tempur. Dan setiap pemain punya satu misi: membuktikan diri.
Puncak perjuangan akan bermuara di Stadion Taruna—arena impian yang siap menjadi saksi lahirnya calon bintang masa depan.
Lebih dari sekadar kompetisi, turnamen ini adalah gerakan kolektif. Tanpa sokongan APBD, seluruh roda kompetisi digerakkan oleh iuran pemain dan dukungan orang tua. Sebuah bukti bahwa cinta terhadap sepak bola di Sragen tak bisa dihentikan oleh keterbatasan.
“Kalau dukungan makin besar, panggung anak-anak ini akan semakin hebat. Potensi mereka luar biasa, tinggal kita beri jalan,” lanjut Wardoyo penuh optimisme.
Di tengah gemuruh semangat dan peluh di lapangan, satu hal menjadi pasti: mimpi itu nyata. Dan dari Sragen, jalan menuju panggung nasional—bahkan internasional—kembali dibuka lebar. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto