SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Tragedi yang merenggut nyawa seorang siswa di SMPN 2 Sumberlawang bukan sekadar insiden, melainkan alarm keras bagi sistem pendidikan di Sragen.
Peristiwa ini membuka fakta yang selama ini kerap luput: pengawasan longgar, beban guru yang terpecah, hingga celah sistem yang belum tertutup.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen pun bergerak cepat. Kepala Disdikbud Sragen, Purwanti, mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan saat kejadian berlangsung.
Fakta di lapangan menunjukkan, guru yang seharusnya berada di kelas justru memiliki tugas lain.
Guru matematika tengah menjadi proktor Tes Kemampuan Akademik (TKA), sementara guru lain sempat meninggalkan kelas. Dalam hitungan menit, ruang tanpa pengawasan berubah menjadi lokasi tragedi.
“Pengawasan saat itu memang tidak maksimal,” tegas Purwanti.
Pernyataan ini seolah menegaskan bahwa masalahnya bukan semata pada individu, melainkan sistem yang memberi ruang kosong pada pengawasan. Ketika satu guru harus merangkap tugas, siapa yang benar-benar menjaga kelas?
Sebagai respons, Disdikbud tengah menyiapkan Surat Edaran pengetatan pengawasan siswa. Namun, langkah ini juga memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah cukup dengan edaran, atau perlu perubahan sistemik yang lebih mendasar?
Di sisi lain, muncul wacana pemasangan CCTV di sekolah-sekolah menggunakan dana BOS. Kamera pengawas diharapkan menjadi “mata tambahan” di titik-titik rawan yang tak terjangkau guru.
Gagasan ini terdengar solutif, tetapi juga menyiratkan satu hal: ketika pengawasan manusia dianggap belum cukup, teknologi didorong untuk menutup celah.
Pertanyaannya, apakah CCTV akan menjadi solusi utama, atau sekadar penambal masalah lama?
Instruksi Bupati Sragen terkait sanksi pun mulai bergulir. Proses pemeriksaan kini berada di tangan Inspektorat untuk menentukan bentuk pelanggaran disiplin ASN yang terjadi.
Sementara itu, Sekretaris Disdikbud Sragen, Sukisno, memastikan evaluasi internal terus berjalan.
Targetnya jelas: mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang—terlebih insiden di lokasi yang sama disebut bukan kali pertama terjadi.
Tragedi ini pada akhirnya menjadi cermin. Bahwa di balik rutinitas sekolah, masih ada celah yang bisa berujung fatal. Dan ketika nyawa sudah menjadi taruhannya, evaluasi tidak lagi bisa setengah hati. (Din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto