SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Pemerintah Kota Surakarta terus memperkuat strategi penanganan stunting dengan pendekatan yang lebih komprehensif.
Tak lagi semata berfokus pada aspek kesehatan, kini intervensi sosial dan lingkungan menjadi kunci utama dalam upaya menekan angka stunting secara berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menegaskan bahwa kualitas tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan sosial ekonomi keluarga.
“Penanganan stunting tidak bisa hanya fokus pada asupan gizi. Lingkungan tempat tinggal, sanitasi, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga sangat berpengaruh,” ujarnya, Selasa (8/4).
Sebagai langkah konkret, Pemkot Solo kini memprioritaskan perbaikan sanitasi, penyediaan jamban sehat, serta penanganan kawasan kumuh. Program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) juga terus digencarkan guna memastikan masyarakat memiliki hunian yang layak dan sehat. Selain itu, akses air bersih menjadi fokus utama yang tak terpisahkan dari upaya ini.
Menurut Astrid, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar intervensi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya kelompok rentan.
“Pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan layanan dasar yang memadai,” imbuhnya.
Pendekatan sosial turut diperkuat melalui program pemberdayaan masyarakat. Edukasi mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi keluarga, serta peningkatan kesejahteraan menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Peran kader posyandu dan komunitas lokal dinilai efektif dalam menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Baca Juga: Tragis di SPBU Jatisrono, Pria 66 Tahun Tewas Usai Alami Sesak Dada
Tak hanya itu, Pemkot juga menggandeng berbagai elemen masyarakat melalui kampanye berbasis budaya. Media tradisional seperti pertunjukan seni dimanfaatkan sebagai sarana edukasi agar pesan pencegahan stunting lebih mudah diterima masyarakat luas.
“Ini kerja kolektif. Semua pihak harus bergerak bersama, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat,” tegas Astrid.
Untuk memperkuat langkah tersebut, Pemkot Surakarta menggelar rapat koordinasi percepatan penanganan stunting pada Senin (7/4).
Dalam forum itu, diperkenalkan inovasi Solo Stunting Dashboard, sebuah sistem pendataan berbasis real time yang akan menjadi acuan utama dalam monitoring dan penanganan stunting di Kota Solo.
Data menunjukkan tren positif. Dalam periode 2024–2025, jumlah kasus stunting di Solo berhasil ditekan dari 1.543 kasus menjadi 1.100 kasus. Meski demikian, tantangan masih ada, terutama terkait faktor non-ekonomi seperti rendahnya literasi, kepedulian, serta kondisi lingkungan yang belum sehat.
Baca Juga: Final Four Proliga 2026 di Solo: Penentuan Juara Dimulai, Mental Tim Diuji!
Untuk mempercepat capaian, sejumlah program unggulan terus didorong, mulai dari Baby SPA, Genting, Posyandu Plus, hingga revitalisasi RTLH. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk mencapai target besar: Zero New Stunting di Kota Solo. (ves/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto