SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Lubang di jalan itu akhirnya tak lagi sekadar dikeluhkan—mulai ditangani. Setelah dibiarkan “menganga” selama berminggu-minggu dan nyaris memakan separuh badan jalan, Pemkot Solo kini bergerak, meski dengan langkah yang terbilang darurat.
Pemerintah Kota Surakarta menyiapkan anggaran ratusan juta rupiah untuk memperbaiki kerusakan jalan di kawasan Jembatan Joko Tingkir. Perbaikan ini difokuskan pada lubang besar yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Surakarta, Nur Basuki, memastikan bahwa penanganan akan segera dilakukan, meski sifatnya masih sementara.
“Sudah ada keputusan. Daripada menunggu lama, kita kerjakan dulu bagian yang berlubang. Segera kita tangani,” ujarnya, Selasa (8/4).
Kerusakan di ruas Jalan Joko Tingkir ini bukan tanpa sebab. Lubang besar tersebut muncul sejak 26 Maret 2026, setelah hujan lebat mengguyur kawasan Solo dan sekitarnya.
Kondisi makin parah ketika sebuah baliho milik Pemkab Sukoharjo di tepi jembatan roboh dan mengangkat pondasinya, hingga merusak saluran drainase serta badan jalan.
Secara kewenangan, perbaikan menyeluruh sebenarnya melibatkan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, terutama jika menyangkut struktur talud di sekitar aliran Sungai Jenes.
Namun menunggu koordinasi rampung tampaknya bukan pilihan bijak di tengah kondisi jalan yang kian membahayakan. Karena itu, Pemkot Solo memilih bergerak lebih dulu untuk menambal kerusakan yang paling mendesak.
“Kita kerjakan dulu. Anggarannya sekitar seratusan juta. Untuk bagian lain nanti ditangani Sukoharjo atau BBWSBS,” jelas Nur Basuki.
Ruas jalan ini sendiri bukan jalur biasa. Jalur penghubung Solo–Sukoharjo via Baki dikenal sebagai salah satu lintasan alternatif yang padat, dilalui kendaraan pribadi hingga truk bermuatan berat. Kondisi tersebut membuat kerusakan kecil pun bisa berdampak besar pada arus lalu lintas.
Warga sekitar pun mulai resah. Selain berisiko bagi keselamatan, lubang yang melebar juga kerap memicu kemacetan karena kendaraan harus bergantian melintas.
Baca Juga: Kini Hadir di Indonesia, Ini Kerennya Fitur Google Search Live yang Didukung AI Mode
“Kalau dibiarkan, sering macet karena hampir makan separuh jalan. Semoga cepat diperbaiki,” ujar Ari Yulianto.
Kini, publik hanya berharap langkah cepat ini benar-benar diikuti dengan penanganan menyeluruh. Sebab jika tidak, lubang yang sama bisa saja kembali “membuka mulut”—menunggu korban berikutnya. (ves/an)