Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Tujuh Hari Menantang Samudra, Pencarian Nelayan Trenggalek Jumali Resmi Dihentikan

Iwan Adi Luhung • Senin, 9 Maret 2026 | 09:41 WIB

Pencarian nelayan Trenggalek, Jumali (50), yang hilang di perairan selatan Pacitan–Wonogiri resmi dihentikan setelah tujuh hari operasi SAR gabungan tanpa hasil.
Pencarian nelayan Trenggalek, Jumali (50), yang hilang di perairan selatan Pacitan–Wonogiri resmi dihentikan setelah tujuh hari operasi SAR gabungan tanpa hasil.

WONOGIRI, SOLOBALAPAN.COM — Tujuh hari sudah tim SAR gabungan menantang ganasnya ombak Laut Selatan demi menemukan jejak seorang nelayan yang hilang.

Namun pada akhirnya, harapan itu harus terhenti. Operasi pencarian terhadap Jumali (50), nelayan asal Trenggalek, Jawa Timur, resmi ditutup setelah upaya penyisiran selama sepekan tidak membuahkan hasil.

Keputusan penghentian operasi tersebut diambil pada Kamis (5/3/2026) sore, setelah seluruh upaya pencarian dinilai telah dilakukan secara maksimal oleh tim SAR gabungan.

“Pencarian dihentikan setelah berlangsung selama tujuh hari. Operasi yang melibatkan berbagai unsur SAR resmi ditutup karena korban belum juga ditemukan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama.

Baca Juga: Video Ukhti Mukena Pink Beneran Ada atau Tidak? Viral di Awal Ramadan 2026, Netizen Buru Link Tanpa Sensor

Selama sepekan terakhir, tim SAR gabungan berjibaku dengan gelombang tinggi di perairan selatan Jawa. Penyisiran dilakukan menggunakan perahu karet, kapal nelayan, serta pemantauan dari sejumlah titik di sepanjang garis pantai.

Area pencarian membentang luas, mulai dari perairan Pacitan, Wonogiri hingga Gunungkidul, wilayah yang dikenal memiliki karakter ombak besar dan arus laut yang kuat.

Namun hingga hari ketujuh, tak satu pun tanda keberadaan Jumali ditemukan.

“Korban dinyatakan hilang setelah seluruh proses pencarian tidak membuahkan hasil,” terang Fuad.

Hilang Saat Melaut

Peristiwa ini bermula saat Jumali melaut menggunakan kapal Manis Rizky 59 dari Pantai Watukarung, Pacitan, pada Kamis (26/2/2026).

Malam itu, ia berangkat bersama sembilan kapal nelayan lainnya menuju perairan selatan untuk memancing sekaligus memasang jaring rendet udang lobster.

Sekitar pukul 21.00 WIB, salah satu nelayan yang berada di kapal lain masih sempat melihat lampu kapal Jumali menyala dari jarak sekitar satu kilometer.

Baca Juga: Astra Daihatsu Kembali Gelar Promo DAIFIT 2026 Hingga Akhir April, Siapkan Posko Nyaman di Jalur Mudik

Namun satu setengah jam kemudian, tepatnya sekitar pukul 22.30 WIB, cahaya lampu kapal tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan.

Rasa curiga pun muncul. Sejumlah nelayan segera mendekati lokasi terakhir kapal terlihat. Namun saat tiba di sekitar rumpon atau titik penangkapan ikan, kapal dan Jumali sudah tidak ditemukan.

Para nelayan sempat melakukan pencarian selama hampir dua jam di tengah gelombang laut selatan yang cukup tinggi. Namun usaha tersebut tak membuahkan hasil.

Mereka kemudian memutuskan kembali ke Pantai Watukarung dan melaporkan kejadian tersebut kepada pemilik kapal.

Informasi mengenai nelayan hilang di laut pun segera disebarkan ke para nelayan di sepanjang pesisir Pacitan hingga Pantai Sadeng, Gunungkidul.

Kapal Ditemukan Terbalik

Keesokan paginya, secercah petunjuk akhirnya muncul. Dua warga Desa Gudangharjo menemukan kapal Manis Rizky 59 dalam kondisi terbalik di Pantai Watumandi, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri.

Baca Juga: Siapa Finazia? Selebgram yang Diterjang Isu Perselingkuhan hingga Foto Tanpa Hijab Tersebar Luas, Citra Alim Runtuh?

Mengetahui adanya laporan nelayan hilang dari Pacitan, warga segera melaporkan temuan tersebut kepada pemilik kapal dan petugas Polsek Paranggupito.

Sejak saat itulah operasi pencarian besar-besaran dimulai. Namun setelah tujuh hari melawan ganasnya laut selatan, Jumali tak juga ditemukan.

Laut kembali menyimpan kisahnya—tentang seorang nelayan yang berangkat mencari rezeki, namun tak pernah kembali ke daratan. (al/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#gelombang tinggi #tim sar gabungan #pacitan #paranggupito #Pantai Watu Karang #kapal terbalik #nelayan hilang #laut selatan