Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Sunyi yang Mematikan di Rel Sragen, Deretan Tragedi dan Cerita Mistis

Ahmad Khairudin • Jumat, 27 Februari 2026 | 22:25 WIB

Perlintasan kereta Solo–Semarang di wilayah Sragen kembali memakan korban. Selain faktor keselamatan, warga juga mengaitkannya dengan kisah mistis dan fenomena aneh di rel tanpa palang.
Perlintasan kereta Solo–Semarang di wilayah Sragen kembali memakan korban. Selain faktor keselamatan, warga juga mengaitkannya dengan kisah mistis dan fenomena aneh di rel tanpa palang.

SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Langit di atas Dukuh Modro, Desa Soko, Kecamatan Miri, Selasa (24/2) siang, tampak biasa saja.

Namun di jalur rel yang membelah kawasan itu, suasana sunyi mendadak pecah oleh deru mesin kereta api Matarmaja jurusan Malang–Pasar Senen.

Pukul 14.55 WIB, benturan keras tak terhindarkan. Seorang perempuan tanpa identitas tewas setelah tertemper lokomotif CC 2017720. Ia menjadi korban terbaru di lintasan kereta wilayah Sragen arah Solo–Semarang, jalur yang oleh sebagian warga dijuluki sebagai “jalur maut”.

Kapolsek Miri, Suprayitno, membenarkan kejadian tersebut. Korban dievakuasi ke RSUD Sragen dengan bantuan relawan serta tenaga kesehatan dari puskesmas setempat.

Baca Juga: Agar Anak Tangguh dan Ceria Saat Puasa, Ini Strategi Orang Tua

Tim harus menyisir pinggiran rel sebelum menemukan jasad korban dalam kondisi mengenaskan.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Warga di sepanjang lintasan Kalijambe, Gemolong, Miri hingga Sumberlawang mengaku kecelakaan di rel kerap terjadi setiap tahun, terutama di titik-titik tanpa palang pintu.

Sunyi yang Mengundang Tanda Tanya

Di balik catatan kecelakaan yang secara logis sering dikaitkan dengan kelalaian atau faktor teknis, terselip cerita lain yang hidup dari mulut ke mulut. Sejumlah warga meyakini ada “fenomena aneh” yang kerap menyertai perlintasan tersebut.

Beberapa pengendara mengaku tiba-tiba merasa linglung atau kehilangan fokus saat melintasi rel.

“Kalau tidak konsentrasi, kadang pandangan seperti kosong. Tahu-tahu kereta sudah dekat,” ujar Yanto, warga yang sering melintas di kawasan itu.

Ada pula kisah kendaraan mendadak mati mesin tepat di atas rel. Dalam cerita yang berkembang, kondisi itu bukan sekadar kerusakan teknis, melainkan dikaitkan dengan energi tak kasat mata yang disebut-sebut “menahan” kendaraan agar tetap diam ketika kereta mendekat.

Sebagian warga menggambarkan sensasi suasana mendadak hening, seolah suara klakson dan gemuruh kereta tertutup penghalang tak terlihat. Korban disebut merasa semuanya normal, padahal bahaya sudah di depan mata.

Cerita-cerita tersebut menjadi bagian dari narasi kolektif yang tumbuh di masyarakat. Meski demikian, hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menguatkan dugaan adanya faktor supranatural di balik kecelakaan di perlintasan tersebut.

Baca Juga: Waspada Kebangkitan Persis Solo! Persik Kediri Poles Taktik Jelang Laga Lawan Laskar Sambernyawa di Stadion Manahan

Faktor Keselamatan Jadi Sorotan

Di luar kisah mistis yang beredar, persoalan utama yang tak terbantahkan adalah faktor keselamatan. Minimnya palang pintu dan rambu peringatan di sejumlah titik perlintasan membuat risiko kecelakaan meningkat, terlebih di jalur yang relatif sepi dan jauh dari permukiman padat.

Jalur kereta api tidak pernah memberi kesempatan kedua. Sekali lengah, konsekuensinya fatal.

Masyarakat diimbau untuk selalu berhenti sejenak, menengok kanan dan kiri sebelum melintasi rel tanpa palang. Hindari penggunaan earphone, bermain ponsel, atau melamun saat berkendara di area perlintasan.

Entah karena mitos yang berkembang atau murni faktor teknis dan kelalaian, satu hal yang pasti: kewaspadaan adalah benteng utama. Di jalur sunyi itu, keselamatan bergantung pada disiplin setiap orang yang melintas. (din/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#fenomena aneh #perempuan tanpa identitas #Kereta Api Matarmaja #Tertemper kereta api #kisah mistis