SOLOBALAPAN.COM – Garis polisi membentang di depan sebuah rumah berwarna cokelat di Dukuh Pengkol, Kecamatan Karanggede, Boyolali.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berteduh penuh kehangatan itu kini sunyi, menyimpan duka mendalam usai peristiwa perampokan sadis yang merenggut nyawa seorang bocah perempuan.
Rumah tersebut diketahui hanya dihuni oleh seorang ibu bersama dua anak perempuannya.
Sang suami, Purwanto, telah belasan tahun merantau ke Pulau Kalimantan untuk menghidupi keluarga. Di Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat, ia membuka usaha warung sate kambing dan tongseng khas Solo.
Baca Juga: AKHIRNYA! Setelah Sempat Nangis-nangis di TV, Denada Kini Akui Ressa Rizky Rossano Jadi Anaknya
Dari pantauan wartawan SOLOBALAPAN.COM, rumah korban tergolong cukup besar dengan konsep modern klasik. Bangunan itu memiliki halaman luas, taman kecil, serta akuarium ikan yang menambah kesan asri.
Rumah ini juga berpagar, namun sisi luarnya berbatasan langsung dengan kebun pohon jati, membuat suasana sekitar relatif sepi.
Kepala Dusun Pengkol, Sarjono, mengungkapkan bahwa Purwanto telah merantau sejak usia muda dan menggantungkan hidup keluarga dari usahanya di Kalimantan.
“Suaminya itu di Kalimantan, usaha warung sate. Sate kambing Solo, tongseng juga. Sudah sekitar 15 tahun merantau, sejak masih bujang,” tutur Sarjono.
Ia menjelaskan, dalam keseharian rumah tersebut hanya dihuni bertiga oleh sang ibu dan dua anak perempuan.
Namun saat peristiwa tragis itu terjadi, anak pertama tidak berada di dalam rumah, sehingga hanya ibu dan anak bungsu yang menjadi korban langsung.
Baca Juga: Kasus Hogi Minaya Vs Jambret, Kapolres Sleman Kini Dinonaktifkan Sementara!
Duka keluarga semakin terasa karena pemakaman korban belum bisa segera dilakukan. Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung Jumat (30/1) siang, menunggu kedatangan sang ayah dari Kalimantan.
Berdasarkan informasi sementara yang diterima wartawan ini, Purwanto diperkirakan tiba di Boyolali sekitar pukul 13.00 WIB, dan pemakaman anak akan dilaksanakan sekitar pukul 14.00 WIB.
Rumah yang dulu menjadi tempat menunggu kepulangan sang ayah dari perantauan, kini justru menjadi saksi bisu luka terdalam sebuah keluarga. (fid/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto