Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ini Alasan Pengemudi Ojek Pangkalan Stasiun Klaten Tak Beralih Jadi Ojol

Angga Purenda • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:03 WIB

Stasiun Klaten masih menjadi titik pengharapan bagi para pengemudi ojek pangkalan (opang) untuk mencari rezeki.
Stasiun Klaten masih menjadi titik pengharapan bagi para pengemudi ojek pangkalan (opang) untuk mencari rezeki.

SOLOBALAPAN.COM – Stasiun Klaten masih menjadi titik pengharapan bagi para pengemudi ojek pangkalan (opang) untuk mencari rezeki.

Di tengah gempuran ojek online (ojol) yang kian masif, opang bertahan dengan cara paling klasik: menunggu penumpang turun dari kereta dan menawarkan jasa secara langsung.

Gesekan antara opang dan ojol sempat terjadi di kawasan Stasiun Klaten. Namun, konflik itu akhirnya mereda setelah kedua pihak dimediasi dan menyepakati aturan baru terkait titik penjemputan.

Perwakilan opang Stasiun Klaten, Edy (63), mengakui bahwa kehadiran ojol merupakan konsekuensi perubahan zaman. Namun, ia menekankan bahwa adaptasi seharusnya dibarengi dengan etika dan saling menghargai di lapangan.

“Kalau bagi kami ya wajar, namanya juga tuntutan era. Tapi yang kami harapkan itu saling pengertian. Mereka kan pendatang, kami orang asli di situ (stasiun). Ya, kami minta dihargai,” ujar Edy kepada solobalapan.com, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Jangan Terkecoh! Video Kontainer iPhone Mengapung di Laut Jawa Viral, Netizen Kompak Teriak Ini AI!

Edy menilai posisi opang jauh lebih terbatas dibandingkan ojol. Ruang gerak mereka hanya bertumpu pada satu titik, yakni Stasiun Klaten, sementara ojol bisa menjangkau penumpang di mana saja.

“Kami ini cuma satu titik saja, pengharapannya ya di stasiun. Kalau online kan luas, di mana saja, seluruh Indonesia bisa,” jelasnya.

Saat ditanya kemungkinan beralih menjadi mitra ojol, Edy secara jujur mengungkapkan hambatan terbesar bukan soal kemauan, melainkan kemampuan.

Faktor usia membuatnya kesulitan beradaptasi dengan teknologi, terutama pengoperasian ponsel pintar dan aplikasi.

“Saya sadar dengan era sekarang, tapi saya sudah tidak bisa mengikuti. Usia sudah uzur. Untuk menjalankan aplikasi itu saya tidak mampu,” tuturnya.

Meski tawaran untuk bergabung dengan platform digital kerap muncul, Edy memilih tetap bertahan sebagai pengemudi ojek pangkalan.

“Bukan belum mau, tapi memang tidak bisa. Saya sudah bilang, untuk mengoperasikan aplikasi saya tidak bisa. Kalau rekan-rekan lain, ya saya tidak tahu ke depan,” tambahnya.

Baca Juga: Antre Sekali Saja! Ini Panduan Lengkap Syarat dan Cara Bayar Pajak Motor Tahunan vs Lima Tahunan: Jangan Sampai Salah Bawa Berkas!

Saat ini, sekitar 40 pengemudi opang menggantungkan hidup di kawasan Stasiun Klaten. Edy juga menaruh perhatian pada pengayuh becak yang masih bertahan di sekitar stasiun, yang sama-sama terdampak perubahan pola transportasi.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, para pengemudi opang berharap tetap diberi ruang untuk mencari nafkah. Mereka siap berdampingan dengan ojol selama kesepakatan mengenai titik jemput penumpang dihormati bersama.

Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo membenarkan bahwa para opang sempat ditawari untuk bergabung menjadi pengemudi ojol, namun memilih menolak. Menurutnya, pilihan tersebut tidak menjadi persoalan selama kesepakatan bersama dipatuhi.

“Pesan kami untuk opang dan ojol, taati kesepakatan yang sudah dibuat dan jalankan sebaik-baiknya. Harapannya ke depan ada forum rutin, mungkin beberapa bulan sekali, untuk duduk bersama agar silaturahmi terjaga dan hubungan makin akrab,” ujar Hamenang.

Baca Juga: Sore Ini! Link Live Streaming Drawing Piala AFF 2026: Indonesia Berpeluang Satu Grup dengan Malaysia

Ia berharap kesepakatan baru tersebut mampu meminimalkan potensi konflik dan mencegah terulangnya gesekan antara opang dan ojol di Stasiun Klaten. (ren/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#opang #ojek online (ojol) #konflik #ojek pangkalan #Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo #Stasiun Klaten