SRAGEN, SOLOBALAPAN.COM – Polemik dapur Satuan Penyedia Pelayanan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang “akrab” dengan kandang babi di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, kini resmi naik level.
Dari isu lokal yang sempat dianggap sepele, persoalan ini akhirnya memaksa pusat ikut nimbrung.
Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak menerjunkan tim investigasi ke lokasi pada Rabu (7/1) sore. Rupanya, aroma polemiknya sudah cukup tajam hingga tercium sampai Jakarta.
Tim dipimpin langsung Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Brigjen TNI Albertus Dony Dewantoro.
Kedatangan jenderal bintang satu sekitar pukul 17.40 WIB itu seolah menjadi penanda bahwa persoalan “dapur gizi vs kandang babi” ini tak lagi bisa diselesaikan sekadar lewat adu argumen di tingkat desa.
Pantauan di lokasi, Brigjen Dony dan rombongan pertama-tama menyambangi kandang babi milik Angga Wiyana Mahardika.
Sayangnya, proses pemeriksaan berlangsung tertutup rapat. Awak media harus puas menunggu di luar pagar—barangkali demi menjaga kenyamanan semua pihak, atau sekadar agar polemik tak makin berisik.
Usai dari kandang, tim kemudian bergeser ke gedung SPPG Banaran untuk mengecek dapur MBG yang disebut-sebut sudah rampung dibangun.
Dapur yang sejak awal diproyeksikan menjadi simbol program nasional itu kini justru jadi sumber kegaduhan.
Namun, meski sudah melihat langsung kondisi di lapangan, Brigjen Dony memilih irit bicara. Hasil investigasi masih disimpan rapat-rapat, termasuk soal nasib dapur MBG: lanjut beroperasi, direlokasi, atau sekadar jadi monumen polemik.
“Nanti saja. Nanti saja setelah kita mediasi sama Kapolres, Dandim, dan seluruh Muspida,” ujar Brigjen Dony singkat, seolah menegaskan bahwa drama ini belum mencapai episode klimaks.
BGN dijadwalkan menggelar mediasi besar-besaran pada Kamis (8/1). Pertemuan tersebut bakal melibatkan Satgas MBG Daerah, aparat keamanan, hingga dua kubu yang saling ngotot.
Tujuannya satu: mencari jalan tengah dari konflik yang sudah menjalar ke isu higienitas hingga tuntutan ganti rugi bernilai miliaran rupiah.
Soal kelanjutan operasional SPPG Banaran, Brigjen Dony menegaskan dirinya hanya bertugas melakukan investigasi faktual di lapangan. Keputusan akhir tetap berada di tangan pimpinan BGN pusat.
“Keputusannya nanti pimpinan. Saya hanya mengambil investigasi tempat secara real,” pungkasnya, sebelum meninggalkan lokasi dan meninggalkan pula tanda tanya besar di tengah masyarakat. (din/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto