SOLOBALAPAN.COM, SRAGEN - Isu wabah Chikungunya di Dukuh Nyawun, Desa Pagak, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, terus memantik polemik.
Di tengah kekhawatiran warga yang menyebut jumlah penderita mencapai ratusan orang hingga lumpuh, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen akhirnya buka suara dan meluruskan data.
DKK menegaskan bahwa angka kasus Chikungunya yang terverifikasi secara medis jauh di bawah klaim warga.
Perbedaan data ini dinilai muncul karena masih banyak masyarakat yang keliru memahami gejala penyakit tersebut.
DKK Sragen: Kasus Resmi Chikungunya Tak Sampai 10 Orang
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) DKK Sragen, dr. Sri Subekti, menjelaskan bahwa penanganan sebenarnya sudah dilakukan sejak awal oleh Puskesmas Sumberlawang, termasuk kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan fogging.
Terkait simpang siur jumlah warga yang disebut lumpuh akibat Chikungunya, dr. Sri menegaskan bahwa tidak semua warga yang mengalami demam bisa langsung dikategorikan sebagai penderita virus tersebut.
"Data resminya tidak sampai 10 kasus yang benar-benar Chikungunya. Masyarakat seringkali menganggap setiap ada panas itu Chikungunya, padahal bisa saja batuk pilek atau greges biasa. Jadi, tidak sebanyak yang diberitakan (100 orang)," jelas dr. Sri Subekti saat dikonfirmasi Jumat (19/12).
Pernyataan ini sekaligus membantah kabar yang beredar luas di masyarakat mengenai skala wabah yang disebut sangat masif.
Embung Nyawun Disebut Jadi Titik Rawan Sarang Nyamuk
Meski demikian, DKK Sragen tidak menampik bahwa lingkungan Dukuh Nyawun, khususnya RT 06 dan RT 07, memang tergolong rawan penyebaran nyamuk.
Lokasi tersebut berdekatan langsung dengan Embung Nyawun yang kondisinya dinilai memprihatinkan.
DKK juga membenarkan keresahan warga terkait dugaan pencemaran embung akibat limbah pabrik pemotongan unggas.
Namun, dr. Sri menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan lagi berada di ranah kesehatan.
"Itu sebenarnya permasalahan dampak pabrik potong unggas. Embungnya jadi kotor, banyak genangan air, dan tertutup gulma atau rumput liar. Lingkungan yang kotor itulah yang menjadi sarang nyamuk," tambahnya.
Menurut DKK, kondisi embung yang penuh genangan dan tertutup gulma menjadi faktor utama berkembangnya nyamuk, bukan semata-mata karena wabah penyakit.
Warga Pernah Setuju Pembangunan Pabrik, Kini Dampaknya Terasa
Dalam keterangannya, dr. Sri juga menyinggung bahwa saat pembangunan pabrik pemotongan unggas dilakukan, masyarakat sekitar telah menyatakan persetujuan.
Namun, dampak lingkungan yang muncul belakangan justru menjadi persoalan baru yang berimbas pada kesehatan warga.
Situasi ini dinilai sebagai pelajaran penting bahwa persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan.
DKK Singgung Peran Warga Jaga Kebersihan Lingkungan
Selain faktor lingkungan makro seperti embung, DKK Sragen juga menyoroti perilaku warga dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah masing-masing.
Menurut dr. Sri, keberhasilan PSN tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat.
"Bisa jadi masyarakat sendiri juga kurang (menjaga kebersihan). Lingkungan yang tertutup rumput dan gulma sangat mendukung perkembangan nyamuk," pungkasnya.
Hingga kini, DKK masih menunggu laporan lapangan terkait hasil PSN yang dilakukan bersama pemerintah desa.
Solusi Jangka Panjang: Normalisasi Embung Nyawun
Dengan data resmi yang telah disampaikan, fokus penanganan kini bergeser pada koordinasi lintas instansi.
Normalisasi Embung Nyawun dinilai menjadi langkah krusial untuk memutus rantai habitat nyamuk yang selama ini menghantui warga Dukuh Nyawun.
Koordinasi antara Pemerintah Desa, Dinas Lingkungan Hidup, dan pengelola pabrik menjadi kunci agar persoalan Chikungunya di Pagak tidak kembali memicu keresahan publik. (din)
Editor : Laila Zakiya