SOLOBALAPAN.COM – Bonyong Munni Ardhi bukan nama asing dalam dunia seni rupa Indonesia. Lahir dengan nama Munni Ardhi, ia mendapat julukan “Bonyong” sejak duduk di bangku SMP—sebuah nama yang kemudian melekat kuat dan menjadi identitas resminya saat menapaki perjalanan panjang sebagai pelukis.
“Saya sejak SMP sudah menggambar. Nama Bonyong itu dulu hanya julukan, tapi ketika saya jadi pelukis, akhirnya dipakai secara resmi,” kenangnya.
Pelukis Serba Gaya yang Menolak Terikat
Dalam dunia seni rupa, Bonyong dikenal sebagai pelukis dengan spektrum gaya luar biasa luas. Ia bebas bergerak dari realisme, impresionisme, ekspresionisme, hingga seni kontemporer.
Meski kini banyak mengerjakan karya realis—terutama potret—keputusan tersebut lebih karena kebutuhan ekonomi, bukan pilihan estetika yang membatasi dirinya.
Baca Juga: Rumor Transfer Serie A: AC Milan Minati Jay Idzes, Sassuolo Pasang Pagar Tinggi dengan Kontrak 2029
“Potret itu harus sama persis. Yang penting, yang meminta puas. Saya lihat wajahnya kok kurang bagus, tapi dia senang, ya sudah, berarti lebih bagus,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, Bonyong tegas menolak membuat karya yang menurutnya “manis” atau mengikuti selera pasar. “Saya memilih yang sesuai konsep saya, keinginan saya.”
Karier Panjang Sejak Remaja
Bakat Bonyong tumbuh cepat. Pada 1965, saat masih SMP, ia sudah menggelar pameran tunggal pertamanya di Surabaya. Ketika SMA, ia mulai berpameran bersama para perupa senior, sebelum melanjutkan studi di ASRI—kini ISI Yogyakarta—pada 1968.
Selain berkarya, ia pernah mengajar dan menilai dunia akademik seni masih kurang berkembang.
“Lingkungannya itu-itu saja, tidak berubah sejak saya pertama masuk ASRI,” kritiknya.
Baca Juga: Shin Tae-yong Kembali ke Jakarta! STY Tiba di Tengah Isu Pencarian Pelatih Timnas Indonesia, Agenda Liburan atau Negosiasi PSSI?
Makna Mendalam “Sold, Old, Death”
Salah satu karya penting Bonyong, “Sold, Old, Death”, lahir dari pergulatannya sebagai seniman yang kerap dihadapkan pada tuntutan pasar.
Ia mengisahkan bagaimana komentarnya yang dulu terdengar sederhana—“gambar itu terus, nanti kamu kaya”—justru membuatnya resah. Ia tidak ingin terjebak menjadi seniman yang mengejar keuntungan semata.
Sold (Laku)
Melambangkan tekanan bahwa karya harus laris. Dalam lukisan, simbol ini digambarkan sebagai keranjang penuh rantai.
“Saya dirantai oleh itu, bahwa karya saya harus laku. Tapi saya senang saat karya saya tidak laku karena saya bisa tetap berkarya sesuai keinginan,” kata Bonyong.
Old (Tua)
Huruf S sengaja dihilangkan. Bagi Bonyong, fase ini menggambarkan kondisi diri yang menua dan hidup dengan uang secukupnya.
“Saya sudah tua dan lemah, uang yang tersisa tinggal recehan. Tapi saya masih cukup untuk hidup,” ujarnya.
Death (Mati)
Alih-alih berkonotasi akhir, “Death” baginya justru simbol kebebasan total. Rantai digambarkan hancur, menandakan ia telah lepas dari segala belenggu.
“Death itu rantainya hancur, saya bebas. Saya akan lari dan terbang seperti burung,” tegasnya.
Muda dan Tua dalam Kacamata Kreativitas
Bonyong melihat “muda” bukan soal usia, tetapi cara berpikir. “Kalau pikirannya bebas, itu muda. Ada yang usianya muda tapi pikirannya cuma soal karya cepat laku, itu tua,” tuturnya.
Meski fisiknya menua, ia merasa selalu muda lewat kreativitas yang tidak pernah berhenti bergerak. “Anda harus berani melompat.”
Citra Diri sebagai Objek Paling Personal
Berbeda dari banyak perupa yang mencari objek cantik atau gagah, Bonyong justru sering menjadikan dirinya sendiri sebagai objek.
“Selain lebih mudah, saya sudah kenal dengan wajah saya,” ujarnya.
Perjalanan panjang Bonyong sebagai pelukis serba gaya menegaskan satu hal: kreativitas sejati lahir dari kebebasan penuh, bukan dari tuntutan untuk disukai atau laris. (min/an)
*Zhahirana Jasmine
Editor : Andi Aris Widiyanto