Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mikroplastik Ditemukan dalam Air Hujan Solo–Boyolali, Jl. Slamet Riyadi Tertinggi

Alfida Nurcholisah • Selasa, 25 November 2025 | 23:23 WIB

Tim Ecoton menemukan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Solo–Boyolali. Jl. Slamet Riyadi mencatat kadar tertinggi mencapai 125 partikel per liter.
Tim Ecoton menemukan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Solo–Boyolali. Jl. Slamet Riyadi mencatat kadar tertinggi mencapai 125 partikel per liter.

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Tim Microplastic Hunter dari Ecoton Foundation mengungkap temuan awal keberadaan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Boyolali–Solo.

Pengambilan sampel dilakukan pada 23 November 2025 di lima lokasi, di antaranya Jl. Slamet Riyadi, Jl. Hassanudin, Jl. Kemuning, dan Jl. Tol Ngemplak Boyolali.

Hasilnya, Jl. Slamet Riyadi menjadi titik dengan kadar mikroplastik tertinggi mencapai 125 partikel per liter air hujan. Disusul Jl. Tol Ngemplak Boyolali 78 partikel/liter, Jl. Hassanudin 75 partikel/liter, dan Jl. Kemuning 50 partikel/liter. Mayoritas temuan berupa mikroplastik jenis fiber (serat), dan sebagian kecil film atau filamen.

Koordinator Tim Microplastic Hunter Ecoton, Alaika Rahmatullah, menyampaikan temuan itu merupakan hasil penilaian berulang menggunakan wadah stainless steel dan mikroskop stereo.

Baca Juga: Ivar Jenner Jadi Rebutan PSIM Jogja dan Persija Jakarta, Siap Saling Sikut untuk Tebus Kontrak Bintang Timnas dari FC Utrecht

“Hujan pertama di Solo, hasil tertinggi ada di Jl. Slamet Riyadi. Satu liter air hujan mengandung 125 partikel mikroplastik. Ini angka yang cukup tinggi, tetapi masih relatif rendah jika dibandingkan dengan wilayah Surabaya,” ujarnya, Selasa (25/11).

Meski demikian, Alaika menilai kondisi ini perlu diwaspadai mengingat polusi udara menjadi pemicu utama.

“Padatnya transportasi dan masih adanya pembakaran sampah membuat partikel mikroplastik naik ke udara, terangkut angin, masuk ke awan, lalu turun bersama air hujan. Pada akhirnya kita yang mengonsumsinya,” jelasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak memanfaatkan air hujan pertama untuk konsumsi karena memiliki tingkat kontaminasi tertinggi.

Baca Juga: DEBAT INTERNAL PSSI! Zainudin Amali Masalahkan Penunjukan Nova Arianto Pegang Timnas U-20, Erick Thohir Pasang Badan: Dia Pelatih Terbaik Saat Ini!

Photo
Photo

“Mikroplastik bisa memicu kanker dan mengganggu sistem hormon,” tegasnya.

Secara warna, mikroplastik hitam mendominasi hingga 71 persen. Warna tersebut biasanya berasal dari abrasi ban kendaraan serta sampah yang dibakar.

Peneliti Ecoton lainnya, Sofi Azilan Aini, menyebut terdapat tiga faktor utama penyebab polusi mikroplastik di udara Solo: pembakaran sampah terbuka, abrasi ban dan rem kendaraan, serta sampah plastik yang tercecer.

Baca Juga: Bikin Pangling! Poster Warkop DKI Reborn 5 Rilis, Penampilan Desta sebagai Dono Tuai Pujian Warganet: 'Gokil!'

“Semakin banyak sampah dibakar, semakin banyak partikel yang turun bersama hujan,” ucapnya.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, mengingatkan risiko kesehatan akibat paparan mikroplastik. Partikel kecil tersebut dapat membawa bahan kimia berbahaya seperti phthalates, BPA, logam berat, hingga bakteri patogen.

“Paparan jangka panjang bisa menyebabkan iritasi pernapasan, gangguan hormon, hingga inflamasi kronis,” ujarnya.

Ecoton merekomendasikan pemerintah daerah memperketat pengawasan pembakaran sampah, memulai pemantauan kualitas udara berbasis mikroplastik, dan mendorong transportasi rendah emisi.
(alf)

Photo
Photo

Editor : Andi Aris Widiyanto
#boyolali #polusi udara #mikroplastik #Ecoton Foundation #solo #hujan pertama