Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Gusti Nurul, Kembang Mangkunegaran yang Menolak Pinangan Soekarno dan Sultan HB IX Demi Prinsip Anti-Poligami

Iwan Kawul • Kamis, 23 Oktober 2025 | 23:24 WIB
Kembang Mangkunegaran, Gusti Nurul.
Kembang Mangkunegaran, Gusti Nurul.

SOLOBALAPAN.COM – Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumowardhani, atau akrab disapa Gusti Nurul, adalah putri bangsawan Pura Mangkunegaran, Surakarta, yang dikenal karena kecantikan, keberanian, dan teguhnya prinsip hidup.

Lahir pada 17 September 1921, Gusti Nurul adalah putri dari Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer.

Gusti Nurul menjelma menjadi simbol inspiratif bagi perempuan Indonesia, membuktikan bahwa kehormatan dan prinsip pribadi berada di atas politik dan tekanan sosial.

Bakat Multitalenta dan Manggung di Belanda

Baca Juga: Misteri di Balik Realitas! Mengupas Tuntas Teori Konspirasi Dunia Simulasi: Apakah Kita Hidup dalam The Matrix?

Sejak kecil, Gusti Nurul menunjukkan bakat luar biasa. Ia mahir menari, berkuda, bermain tenis, dan membuat puisi. Keahliannya menari bahkan membawanya ke panggung internasional.

Panggung Dunia: Saat berusia 15 tahun, Gusti Nurul diundang ke Belanda oleh Ratu Wilhelmina untuk tampil di acara pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard pada tahun 1937.

Siaran Radio: Penampilannya di Belanda diiringi musik gamelan yang dimainkan langsung dari Istana Mangkunegaran dan disiarkan melalui radio Solosche Radio Vereeniging.

Foto dan liputannya kemudian dimuat di Life Magazine, memperkenalkan Gusti Nurul ke publik internasional.

Menolak Pinangan Tokoh Paling Berkuasa di Indonesia

Kecantikan, kecerdasan, dan latar belakangnya membuat Gusti Nurul dikagumi banyak tokoh besar nasional, termasuk Presiden Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Namun, ia menolak semua pinangan tersebut. Alasan penolakannya tegas, ia tidak ingin hidup dalam poligami dan tidak tertarik dengan dunia politik.

Keputusannya ini menunjukkan integritasnya untuk memilih prinsip hidup di atas popularitas atau tekanan sosial.

Pilihan Hidup dan Warisan Keberanian

Pada 24 Maret 1954, di usia 33 tahun—yang dianggap terlambat bagi gadis Jawa pada masa itu—Gusti Nurul menikah dengan Raden Mas Sujarso Surjosurarso, seorang perwira militer yang pernah menempuh pendidikan di Akademi Militer Kerajaan Belanda.

Setelah menikah, Gusti Nurul meninggalkan kehidupan keraton dan menetap bersama keluarga di Bandung.

Ia menjalani kehidupan sederhana, jauh dari hiruk-pikuk politik. Gusti Nurul meninggal pada 10 November 2015.

Kisah hidupnya kini menjadi simbol inspiratif bagi perempuan Indonesia modern. Ia menekankan pentingnya integritas, keberanian, dan prinsip hidup yang teguh, tanpa harus mengikuti ekspektasi masyarakat atau peran tradisional semata. (mg2/dam)

Direktur Poltekpar Bali Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes (tengah) bersama dengan Koordinator Program Studi PKA sekaligus Ketua Pelaksana The 16th Makardhi Job Fair 2025, I Putu Esa Widahartana.
Direktur Poltekpar Bali Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes (tengah) bersama dengan Koordinator Program Studi PKA sekaligus Ketua Pelaksana The 16th Makardhi Job Fair 2025, I Putu Esa Widahartana.
Kunjungan dr Tirta di Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907.
Kunjungan dr Tirta di Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907.
Editor : Damianus Bram
#Gusti nurul #mangkunegaran #presiden soekarno #Sultan Hamengkubuwono IX