Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Mengenal Jaran Bigar, Kesenian Khas Karanganyar: Bukan Hanya Tontonan, Tapi Juga Tuntunan Hidup

Damianus Bram • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 00:02 WIB
Kesenian Jaran Bigar Eyang Perunggu Ds. Nerang, Plosorejo, Kerjo, Karanganyar.
Kesenian Jaran Bigar Eyang Perunggu Ds. Nerang, Plosorejo, Kerjo, Karanganyar.

SOLOBALAPAN.COM - Jaran Bigar, sebuah kesenian khas Jawa yang lestari di Dusun Nerang, Desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, memiliki makna mendalam. Kelompok kesenian ini, yang dinamai Eyang Perunggu, telah ada sejak 1973.

Jaran Bigar adalah seni tutur atau nasihat yang divisualisasikan.

Pementasan ini biasanya terdiri dari empat kuda-kudaan (jaran) yang melambangkan empat jenis nafsu manusia:

Kemudian, ada Buto, yang diperankan oleh manusia dengan topeng menyeramkan.

Buto melambangkan godaan dan tantangan, atau dalam cerita Jaran Bigar, sebagai musuh para Jaran.

Ada pula Ratu Buto yang disebut Kala Ludra (waktu kerusakan). Ini bermakna bahwa siapa pun yang menyia-nyiakan waktu akan hancur, apalagi jika terus-menerus membuat kerusakan akibat kalah dengan hawa nafsu dan godaan.

Ada juga Pangon (pawang) atau tetua yang membawa Cemeti (cambuk). Cemeti ini menjadi simbol pengendali para tokoh dalam pementasan Jaran Bigar.

Menurut Anang Sarwanto, S.Sn, tokoh pelestari budaya sekaligus Kepala Dusun Nerang, pementasan Jaran Bigar membawa nasihat tentang Patjipat Limo Pancer (empat kiblat, lima pancer/pengendali).

"Dari konsep ini kan mengandung arti dari Patjipat Limo Pancer. Pat, empat dari Jarannya tadi, dan Pancernya satu itu pawang memakai cemeti. Itu sebagai pengendalian diri. Orang tua, itu kan sebagai pengendali arah. Jangan ini, jangan itu," tutur Anang, Kamis (7/8/2025).

Saat kesenian ini digelar, para pemain kadang ada yang ndadi (kesurupan) dan melakukan hal-hal di luar kendali.

Hal ini diartikan sebagai orang yang tidak mau mematuhi arahan dari orang tua, sehingga berperilaku seenaknya dan merusak diri.

"Nak ora manut karo wong tuane akhire ya ndadi, sak penake dewe. Mangan beling, mangan mowo karna kegoda halangan dan rintangan dari Kala Ludra tadi, rusak akhire, nak gak manut rusak," ujar Anang.

(Jika tidak patuh pada orang tua akhirnya ya kesurupan, seenaknya sendiri. Makan beling, makan arang karena tergoda oleh halangan dan rintangan dari Kala Ludra, akhirnya rusak, jika tidak patuh, rusak.)

Kesenian Jaran Bigar biasanya dipentaskan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat acara Merti Dusun (Bersih Dusun) yang dilakukan setiap malam Jumat Legi di bulan Suro.

"Jaranan ini tidak hanya sebagai tuntunan, tapi juga sebagai ruwatan dusun. Karena orang Jawa itu segala sesuatu bisa menjadi sarana. disarankan melakukan kirab dusun, setiap jumat legi di bulan suro, itu menyeluruh," jelas Anang.

Di masa lalu, Jaran Bigar juga sering digelar selepas pesta pernikahan, selapanan (kelahiran bayi usia 35 hari), dan hajatan lainnya.

Kesenian ini juga dilakukan saat seseorang memiliki nazar. Dalam kepercayaan Jawa, saat anak sakit-sakitan, orang tua akan bernazar jika anaknya sembuh, maka Jaran Bigar akan digelar.

Semua memiliki maksud untuk melakukan ruwatan (pembersihan) dari energi-energi negatif. (mg ninit/dam)

 

Editor : Damianus Bram
#Jaran Bigar #kesenian khas Karanganyar #kerjo #tari