Oleh : Sudarti, M.Pd.
SOLOBALAPAN.COM - Seseorang dikatakan sejahtera jiwanya, jika kondisi mental dan emosionalnya mencerminkan sejauh mana merasa puas, bahagia, dan mampu mengelola kehidupan dengan baik. Well being akan meningkatkan hasil belajar, karena siswa beraktivitas di kelas dengan rasa nyaman dan bahagia.
Well-being adalah kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan tanpa adanya gangguan secara psikologis, sehingga seseorang mampu mengaktualisasikan potensi diri untuk menjalani kehidupan tanpa rasa khawatir, sehingga membantunya memiliki kepuasan dalam diri dan kebahagiaan di kehidupannya (Ryff, 1989).
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang menyesuaikan keberagaman kebutuhan peserta didik, untuk memenuhi keperbedaan cara belajar individu siswa dalam kelas. Hal ini memberikan pengalaman belajar yang sesuai kemampuan, minat, dan gaya belajar anak yang bervariasi.
Tujuan pembelajaran berdiferensiasi, membantu peserta didik untuk belajar dengan cara yang paling efektif, demi meningkatkan rasa percaya diri dan kepuasan diri anak, yang berkontribusi pada student well-being.
Pembelajaran berdiferensiasi berbasis multiple intelligence mendukung well-being. Karena siswa merasa dihargai dan dipahami, belajar tanpa tekanan, serta sesuai gaya dan minatnya. Siswa lebih terlibat, bahagia, dan percaya diri dalam belajar.
Jika siswa diperhatikan, maka mereka akan lebih siap belajar, lebih mudah menerima perbedaan, nyaman dalam berinteraksi, dan optimal dalam mengeksplorasi lingkungan belajar. Berikut tujuan penulis melakukan penelitian terkait pembelajaran berdiferensiasi.
Pertama, menganalisis penerapan pembelajaran berdiferensiasi berbasis multiple intelligence, yang berorientasi student well being di PAUD Surakarta. Kedua, mengembangkan model pembelajaran ini untuk menguatkan student well being di PAUD Surakarta.
Ketiga, menganalisis kelayakan pengembangan model ini, untuk menguatkan student well being di PAUD Surakarta. Keempat, mensitesis efektivitas pengembangan model pembelajaran ini, untuk menguatkan student well being di PAUD Surakarta.
Pendekatan yang digunakan penulis, yakni penelitian dan pengembangan (R&D), dengan mengadaptasi model (analysis, design, development, implementation, evaluation (ADDIE). Serta mencakup tahap analisis kebutuhan, desain model, validasi ahli, uji coba terbatas, revisi, dan uji coba luas.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Serta dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif, dengan subyek penelitian di PAUD Surakarta.
Berikut hasil penelitian model pembelajaran berdiferensi berbasis multiple intelligence. Pertama, pemahaman guru tentang multiple Intelligence. Kedua, perencanaan pembelajaran. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran.
Keempat, fasilitas pendukung. Kelima, keterlibatan anak. Keenam, pemantauan dan penilaian. Ketujuh, dampak pada student well being. Kedelapan, kolaborasi dengan orang tua dapat menguatkan kesejahteraan siswa pada aspek emosi, sosial, dan fisiknya.
Hasil penelitian ini berkontribusi teoritis dan praktism, dalam pengembangan model pembelajaran berdiferensiasi berbasis multiple Intelligeence yang menguatkan student well being. Guru dapat mengimplementasikannya dengan konsisten. Serta memerhatikan keberagaman kecerdasan yang dimiliki siswa. Semua itu juga didukung kebijakan kepala sekolah.
Guru perlu memiliki pemahaman tentang prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan konsep multiple intelligence. Guru perlu ketrampilan dalam mengidentifikasi dan memetakan kecenderungan kecerdasan dominan pada setiap siswa, serta merancang strategi belajar yang beragam dan fleksibel agar dapat mengakomodir keberagaman kecerdasan.
Lembaga pendidikan anak usia dini diharapkan menyediakan kurikulum, fasilitas pendukung pembelajaran berdiferensiasi, serta multiple intelligence. Di antaranya penyediaan alat permainan edukatif yang bervariasi, ruang belajar fleksibel, serta program pelatihan bagi guru. Dukungan Ini akan memperkuat peran satuan pendidikan anak usia dini, sebagai tempat yang aman dan menyenangkan.
Tim pengembang kurikulum satuan pendidikan PAUD harus mulai mengakomodasi model pembelajaran yang lebih personal dan inklusif, melalui ruang implementasi multiple intelligence. Model ini akan lebih memudahkan dalam pengembangan emosional, sosial, fisik motorik, dan kognitif. Perkembangan holistik sejak usia dini, akan sangat menunjang kesiapan anak dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. (*)
Editor : Andi Aris Widiyanto