Oleh : Hesti M.Pd.
SOLOBALAPAN.COM - Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu bersaing di era global.
Dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis menuntut siswa tidak hanya menguasai pengetahuan saja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan cepat, berpikir kritis, dan bekerja sama secara efektif.
Meski kurikulum terus mengalami pembaruan, masih banyak pembelajaran di kelas yang berpusat pada guru. Serta kurang memberikan ruang bagi siswa untuk mengasah keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi era abad 21.
Banyak siswa kurang aktif di kelas, hanya berorientasi pada nilai, dan kurang diberikan ruang untuk mengasah keterampilan kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.
Selama ini, pelajaran seni sering dianggap sebagai mata pelajaran (mapel) kurang penting dan pelengkap. Padahal, di dalam seni khususnya seni pertunjukan, terdapat ruang untuk mendukung keterampilan hidup yang dibutuhkan seorang individu, khususnya siswa.
Dalam seni pertunjukan, siswa dapat merasakan langsung proses menyampaikan gagasan, ide-ide kreatif, menyusun narasi, mengekspresikan emosi, berkolaborasi dengan teman kelompok, serta bertanggung jawab.
Kecakapan abad 21 mencakup tiga komponen. Pertama, learning and innovation skills (keterampilan belajar dan berinovasi) seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Kedua, digital literacy skills (kecakapan literasi digital) seperti literasi media dan teknologi, serta literasi informasi.
Ketiga, life and career skills (keterampilan hidup dan karir) seperti kemampuan beradaptasi, tanggung jawab, fleksibilitas, dan kepemimpinan. Tanpa menguasai ketiganya, seorang individu akan kesulitan menghadapi dinamika hidup yang penuh persaingan ketat.
Maka pendidikan yang diberikan saat ini tidak cukup hanya fokus pada aspek kognitif saja, tetapi juga harus mampu mendukung pengembangan keterampilan yang relevan dengan tuntutan abad ke-21.
Menjawab kebutuhan dan tantangan ini, perlu bahan ajar berupa modul pembelajaran seni pertunjukan yang terintegrasi dengan kecakapan abad ke-21, khususnya bagi siswa SMA kelas 10. Modul tersebut diharapkan menjadi solusi inovatif dalam pembelajaran seni budaya, khususnya materi seni teater (drama). Supaya pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, kontekstual, dan relevan dengan keterampilan yang dibutuhkan di era abad ke-21.
Dalam modul ini, siswa didorong lebih aktif dalam setiap tahapan pembelajaran. Siswa terlibat langsung dalam praktik dan proyek-proyek pementasan.
Dalam persiapannya, siswa diberi kesempatan merancang pertunjukan, menulis naskah, memilih properti dan kostum, serta membuat koreografi dan tata panggung. Seluruh proses itu akan mengasah keterampilan komunikatif, kreatif, dan kolaboratif.
Modul seni pertunjukan terintegrasi kecakapan abad ke-21 dirancang untuk menjawab kebutuhan siswa. Penyusunan modul ini dirancang berdasarkan kajian terhadap kurikulum yang digunakan di SMA (Kurikulum Merdeka).
Kurikulum ini Menekankan pembelajaran berbasis proyek dan pengembangan terhadap karakter siswa. Sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam modul tercapai.
Namun, saat dibutuhkan sinergi antara pengampu kebijakan, guru, dan siswa sebagai pengguna modul. Dalam praktiknya, guru perlu dibekali pelatihan dan panduan penggunaan modul terlebih dahulu.
Modul seni pertunjukan terintegrasi kecakapan abad ke-21 dirancang bukan sebagai pelengkap bahan ajar, tetapi juga implementasi nyata transformasi pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek aktif.
Melalui modul ini, pembelajaran seni tidak lagi menjadi pelajaran yang membosankan dan bersifat teoretis, melainkan ruang yang dinamis untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemampuan komunikatif, dan menumbuhkan kolaboratif.
Idealnya, pembelajaran di tingkat sekolah menengah tidak hanya mengajarkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga membekali siswa agar siap menjalani kehidupan yang dinamis dan siap berkontribusi di era abad ke-21. (*)
Editor : Andi Aris Widiyanto