SOLOBALAPAN.COM - Di Dukuh Ngricik, Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari, hampir setiap rumah memiliki keterkaitan dengan kuliner tahu kupat.
Dari generasi ke generasi, banyak warga di dukuh yang terdiri dari empat RT ini menggeluti profesi sebagai penjual tahu kupat.
Mereka merantau ke berbagai daerah di Soloraya hingga Yogyakarta untuk menjajakan hidangan khas yang telah menjadi bagian dari identitas mereka selama lebih dari 80 tahun.
"Hampir semua warga di Dukuh Ngricik berjualan tahu kupat. Ada yang membuka usaha di Karanganyar, Solo, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.
Usaha ini terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ungkap Didik Sulistyo, Kepala Dusun II Desa Grajegan, Kecamatan Tawangsari.
Didik juga menuturkan bahwa salah satu penjual tahu kupat di Sumber, Banjarsari, Solo, kerap menerima undangan dari Joko Widodo untuk menyajikan tahu kupat di kediamannya di Sumber, Banjarsari.
Kuliner khas ini sering dijadikan sajian bagi tamu-tamu Presiden dan keluarganya.
"Yang berjualan di Sumber itu sudah kenal dengan Pak Jokowi sejak beliau masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, dan hubungan itu masih terjalin hingga sekarang," tambahnya.
Menurut Didik, tradisi berjualan tahu kupat oleh warga Ngricik sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1940-an, terutama di sekitar Keraton Solo.
Saat ini, usaha tersebut telah diwariskan hingga ke generasi ketiga.
"Ada yang meneruskan usaha keluarga, namun ada juga yang awalnya hanya bekerja di warung tahu kupat, lalu akhirnya membuka usaha sendiri," jelas Didik.
Sebagian warga bahkan memulai kariernya sebagai tukang parkir atau pekerja dapur di warung tahu kupat sebelum akhirnya berani mendirikan usaha sendiri.
Mereka belajar secara langsung dari pengalaman kerja, mulai dari cara memasak hingga mengelola warung.
Menariknya, beberapa warga Ngricik memiliki strategi usaha yang unik.
Tidak hanya sekadar berjualan tahu kupat, mereka juga membangun warung dari nol hingga ramai pelanggan, lalu menjualnya kepada orang lain.
Setelah itu, mereka kembali membangun warung baru di lokasi lain dan mengulang proses yang sama.
"Memang ada yang menjalankan usaha dengan cara seperti itu. Begitu warung sudah ramai, mereka menjualnya. Sayangnya, sering kali pembeli warung tidak bisa mempertahankan kesuksesan yang sudah dirintis sebelumnya," ujar Didik.
Pada masa lalu, komunitas penjual tahu kupat di Ngricik sempat memiliki paguyuban yang aktif, terutama saat awal kepemimpinan Bupati Wardoyo Wijaya.
Paguyuban ini berfungsi sebagai wadah kebersamaan dan solidaritas antarpenjual tahu kupat.
"Dulu, kalau ada acara, para anggota paguyuban biasanya mengadakan iuran. Dana yang terkumpul digunakan untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan wayang kulit atau acara lainnya.
Namun, sayangnya, sekarang pengelolaannya sudah tidak aktif lagi," kenangnya.
Meskipun paguyuban tidak lagi berjalan sebagaimana dulu, semangat warga Ngricik dalam merantau dan mempertahankan tradisi tahu kupat tetap kuat.
Mereka terus menyebarkan cita rasa khas tahu kupat Tawangsari ke berbagai daerah, menjadikannya sebagai bagian dari warisan kuliner yang terus hidup dan berkembang. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo