SOLOBALAPAN.COM - Hampir tiap musim hujan, beberapa daerah di Kota Solo mengalami kebanjiran karena intensitas air yang terlalu tinggi.
Akibat meningkatnya debit air sungai. Tidak jarang, bencana banjir ini merugikan masyarakat secara material atau bahkan mengancam jiwa.
Berawal dari keresahan ini, dua siswa asal Solo berhasil membuat inovasi alat pendeteksi banjir. Ialah Hanindawan Abdullah dan Farah Aulia, siswa-siswi dari MAN 1 Solo.
Mereka menciptakan prototype bernama De Ras, untuk memitigasi bencana banjir sebelum merugikan masyarakat.
"Prototype De Ras merupakan inovasi pendeteksi banjir untuk Kota Surakarta, berupa sistem monitoring yang berbasis IOT (Internet of Things)," kata Hanindawan kepada Jawa Pos Radar Solo.
Cara kerja teknologi De Ras yaitu dengan menghubungkan tiga sensor utama kepada satu mikrokontroler.
Masing-masing sensor itu meliputi debit air, hujan, serta debit air kencang. Ketiga sensor itu yang kemudian akan mengirimkan sinyal, jika terjadi ancaman banjir di lingkungan masyarakat.
"Sehingga misal ada ancaman bencana banjir, akan ada sinyal yang masuk berupa chat telegram. Itulah mengapa, prototype ini juga sebagai sarana mitigasi bencana banjir untuk warga," jelas Hanindawan.
Pembuatan teknologi untuk antisipasi dampak banjir ini tidak secara kebetulan dibuat oleh Hanindawan dan Farah.
Selama sebulan penuh kedua siswa kelas 10 itu melakukan riset dan gali data. Terkait kondisi lingkungan di wilayah Surakarta dan Provinsi Jawa Tengah.
Ditemukan bahwa sebanyak 20 ribu orang telah terdampak banjir di provinsi Jateng dan 14 kecamatan terdampak banjir di Surakarta pada tahun 2023.
"Kami melihat bahwa banjir ini bukan hanya menimbulkan kerugian harta benda, tetapi juga mengancam jiwa, oleh karena itu inovasi ini bertujuan agar masyarakat Kota Surakarta tahu pentingnya mitigasi sebelum adanya banjir," beber dia.
Hanindawan menjelaskan, prototype berbasis IOT ini memiliki satu parameter utama dan dua parameter pendukung.
Berfokus untuk mengantisipasi banjir bandang. Selain itu, juga untuk mendeteksi ketinggian luapan air sungai serta debit air hujan.
"Kami ada ambang batas normal tertentu. Jadi kalau melebihi batas tersebut, berarti ada ancaman terjadi banjir bandang, yang chat peringatan akan kami kirimkan melalui bot telegram De Ras yang bisa diakses masyarakat," urainya.
Ada tiga kondisi utama yang difokuskan Hanindawan melalui prototype ini. Mulai dari pra bencana, bencana, hingga pasca bencana.
Hal ini agar masyarakat bisa cepat tanggap dalam memahami kondisi sekitar.
"Jadi untuk pra bencana sebagai sarana mitigasi, lalu saat bencana akan ada informasi perkembangan dari bencana banjir. Lalu ketiga pasca bencana, masyarakat bisa menggunakan De Ras sebagai sarana informasi kapan waktu yanh tepat untuk balik ke rumah mereka," jelas Hanindawan.
Tentu menciptakan teknologi yang berguna bagi masyarakat ini tak semudah membalikkan telapak tangan.
Hanindawan dan Farah yang notabene duduk di bangku awal SMA harus tekun belajar coding dan pemrograman, supaya berhasil menjadi prototype.
Terbukti berkat kecerdasan dan dorongan para guru, tim De Ras mampu memamerkan prototipe inovasinya pada lomba Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) di Solo Technopark, Senin-Selasa (7-8/5).
Bahkan, Tim De Ras berhasil menduduki juara pertama dari ajang kreasi pelajar tersebut.
Hanindawan berharap, inovasi prototype ini mendapat perhatian dukungam dan perhatian penuh dari pemerintah.
Untuk bisa dikembangkan menjadi alat pendekteksi banjir secara utuh. Agar bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami juga didorong oleh para guru MAN 1 dan berkomitmen untuk keberlanjutan prototype ini. Kami juga menggandeng instansi besar seperto BPBD Kota Solo untuk pengembannya. Rencananya kami juga akan maju ke tingkat lomba provinsi," tukas Hanindawan. (ul)
Editor : Nindia Aprilia