SOLOBALAPAN.COM - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi masih terjadi di Klaten.
Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten terdapat 11 ekor sapi yang terjangkit PMK.
DKPP pun terus memperketat pengawasan terhadap kondisi kesehatan sapi di 26 kecamatan.
“11 ekor sapi yang terjangkit PMK itu merupakan data terakhir seminggu lalu. Tersebar di Kecamatan Wonosari, Trucuk, Karangnongko dan Ngawen.
Untuk minggu ini tentunya lebih turun lagi,” ujar Kepala DKPP Klaten Widiyanti, Rabu (8/5).
Lebih lanjut, Widiyanti menjelaskan, kasus PMK saat ini lebih landai dibandingkang dengan Tahun 2022-2023.
Sejak pertama terdapat PMK hingga saat ini terdapat 4.117 kasus hingga saat ini. Meski begitu, DKPP telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan penyakit yang disebabkan oleh virus.
Sekalipun kasus PMK mengalami tren penurunan tetapi DKPP Klaten tetap melakukan pengawasan di setiap pasar hewan di Klaten.
Mengingat pasar disinyalir menjadi tempat penularan segala jenis bakteri dan virus. Mulai dari PMK, antraks hingga Lumpy Skin Diseases (LSD).
“Setiap ada pasaran kami terjunkan tim kesehatan hewan. Apalagi pasar ini adalah tempat startegis untuk terjadinya penularan.
Dikarenakan ada hewan dari luar atau dari mana saja kan berkumpul di situ (pasar hewan),” jelas Widiyanti.
Pengawasan di pasar hewan pun terus diperketat agar sapi yang memiliki gejala PMK bisa langsung mendapatkan penanganan dan pengobatan.
Meski begitu, gejala baru muncul beberapa hari kemudian setelah terpapar. Maka itu, perlu menjadi perhatian peternak saat hendak membeli sapi di pasar hewan.
Berdasarkan data dari DKPP Klaten, di Kota Bersinar terdapat 73.000 ekor sapi potong. Sebagian besar diperjualbelikan di Pasar Pedan, Prambanan dan Jatinom.
Maka itu edukasi kepada peternak pun telah dilakukan guna mencegah munculnya kasus PMK baru di Klaten.
“Memang kami harus melakukan pengawasan dan penyadaran kepada masyarakat. Setia pada gejala atau penyakit apa pun untuk segera dilaporkan. Jadi kami bisa sesegera mungkin melakukan pengendaliannya,” ujar Widiyanti.
Dirinya pun mengimbau kepada peternak maupun pembeli untuk mengecek kondisi sapi.
Apabila muncul gejala seperti luka pada kuku, air liur yang keluar maupun bitnik-bintik, dianjurkan membawa sapi ke Puskeswan atau melapor kepada DKPP.
“Kami juga meningkatkan vaksinasi. Jadi walaupun kemarin sudah cukup banyak yang divaksin, tapi tetap kami lakukan vaksinasi. Soalnya vaksinasi PMK tidak hanya sekali tetapi bisa sampai tiga hingga empat kali,” ujar Widiyanti.
Sementara itu, Koordinator Puskeswan Jatinom, Duwi Pudjiningasih menjelaskan untuk populasi ternak sapi di Kecamatan Jatinom terdapat 13.000 ekor baik sapi potong maupun sapi perah.
Ada pun populasi sapi terbanyak tersebar di Desa Kayumas dan Bandungan.
“Untuk capaian vaksinasi di PMK sendiri sudah sampai 90 persen baik dosis 1, 2 dan 3. Saat ini juga sudah jalan vaksin booster. Untuk sampai saat ini sapi yang dimiliki peternak telah terpantau dengan baik." ujarnya.
Ia Menambahkan, "Tapi kami tidak bisa memantau kalau sapi-sapinya dari luar, karena tidak diketahui datang dari mana. Tapi kami pastikan, sapi milik masyarakat sehat,” (ren)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo