SOLOBALAPAN.COM – Mimpi Timnas Inggris mengakhiri puasa gelar Piala Dunia kembali pupus. The Three Lions gagal melangkah ke final Piala Dunia 2026 setelah takluk 1-2 dari Argentina dalam laga semifinal di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Kamis (17/7) WIB.
Kekalahan tersebut langsung memicu gelombang kritik kepada pelatih Thomas Tuchel. Keputusannya mengubah formasi dan menerapkan strategi bertahan yang dijuluki "Azteca Plan" dinilai menjadi titik balik yang membuat Inggris kehilangan kendali pertandingan.
Inggris sebenarnya tampil menjanjikan di awal laga. Anthony Gordon membawa timnya unggul 1-0 pada menit ke-55 setelah memanfaatkan serangan cepat yang gagal diantisipasi lini belakang Argentina.
Namun keunggulan itu tak bertahan lama.
Pada menit ke-72, Tuchel menarik Gordon dan memasukkan bek kiri Ezri Konsa. Bersamaan dengan itu, Dan Burn dan Nico O'Reilly juga dimasukkan sehingga Inggris beralih memainkan lima pemain bertahan.
Perubahan tersebut justru menjadi bumerang.
Argentina Mendominasi Total
Setelah Inggris memilih bertahan, Argentina semakin leluasa menguasai permainan. Tim asuhan Lionel Scaloni mencatat penguasaan bola mencapai 76 persen, sedangkan Inggris hanya mampu menguasai bola sekitar 12 persen dalam periode setelah perubahan taktik dilakukan.
Tekanan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil.
Baca Juga: Kejagung Digugat Praperadilan di PN Solo! Buntut Dihentikannya Pendataan MBG
Enzo Fernandez mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-85. Hanya berselang tujuh menit, Alejandro Garnacho menyisir sisi kiri sebelum mengirim umpan matang yang diselesaikan Lautaro Martinez menjadi gol kemenangan Argentina.
Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi.
Tuchel Akui Salah Strategi
Usai pertandingan, Thomas Tuchel mengakui perubahan taktiknya tidak berjalan sesuai rencana.
Ia mengaku timnya terlalu pasif setelah unggul dan kehilangan keberanian untuk tetap memainkan sepak bola menyerang.
Baca Juga: Kuliner Solo: Ayam Bakar Madu Mbok Sarmi Tetap Murah Meriah di Tengah Lonjakan Harga Pangan
"Kami menjalankan rencana dengan cukup baik. Setelah unggul, kami terlalu pasif dan memberikan terlalu banyak ruang kepada Argentina. Saat menghadapi tim seperti mereka, Anda harus terus menekan," ujar Tuchel.
Pelatih asal Jerman itu juga mengakui keputusan memainkan lima bek tidak menghasilkan efek yang diharapkan.
"Saya kecewa dengan hasilnya. Kami memainkan salah satu pertandingan terbaik kami, tetapi keputusan taktik itu tidak memberi hasil yang kami inginkan."
Media Inggris Ramai Mengkritik
Kekalahan ini langsung menjadi sorotan media Inggris.
Banyak media menilai Tuchel mengulangi kesalahan Gareth Southgate yang terlalu defensif saat menghadapi lawan-lawan besar di turnamen internasional.
Sejumlah mantan pemain Inggris juga mempertanyakan keputusan bertahan terlalu dini ketika masih memiliki momentum untuk menambah gol.
Legenda Manchester United Wayne Rooney bahkan menyebut perubahan strategi tersebut sebagai kesalahan fatal karena memberikan kebebasan kepada Argentina menguasai lini tengah.
Rekor Buruk Inggris Berlanjut
Kekalahan dari Argentina memperpanjang catatan buruk Inggris ketika menghadapi negara penghuni 10 besar ranking FIFA di Piala Dunia.
Sejak 1998, Inggris tercatat selalu gagal menang ketika bertemu tim elite dunia pada fase gugur.
Catatan tersebut antara lain:
- 1998: Kalah dari Argentina (16 besar)
- 2002: Kalah dari Brasil (perempat final)
- 2006: Kalah dari Portugal (perempat final)
- 2010: Kalah dari Jerman (16 besar)
- 2018: Kalah dari Belgia (perebutan tempat ketiga)
- 2022: Kalah dari Prancis (perempat final)
- 2026: Kalah dari Argentina (semifinal)
Sementara itu, kemenangan atas Inggris membawa Argentina melangkah ke final Piala Dunia 2026. Albiceleste kini hanya tinggal selangkah lagi mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih pada edisi sebelumnya. (an)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : solobalapan.com