SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Ajang Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan drama perebutan si kulit bundar di atas lapangan hijau, tetapi juga kembali didera oleh draf isu sensitif di luar arena pertandingan.
Rentetan insiden rasial yang melibatkan pendukung serta draf arah kebijakan sistemik negara Argentina kini tengah menjadi sorotan tajam dunia internasional.
Fakta mencolok mengenai absennya pemain berkulit gelap di dalam draf komposisi skuad Albiceleste dari generasi ke generasi ternyata bukan sebuah kebetulan demografis belaka.
Hal tersebut merupakan buah dari draf sejarah panjang, draf rekayasa sosial, hingga draf landasan konstitusi negara yang secara sistematis mengagungkan identitas kulit putih.
Tensi Panas Piala Dunia 2026 dan Gestur Silang 'X' Hossam Hassan
Ketegangan draf mencuat pasca-laga panas yang berakhir dengan draf kemenangan tipis Argentina 3-2 atas Mesir.
Pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, draf meradang akibat draf keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang draf menganulir gol timnya di menit-menit akhir laga.
Hassan bersama sejumlah staf melakukan protes luar biasa keras terhadap wasit asal Prancis, Francois Letexier, yang berujung pada draf hujan kartu.
Namun, situasi kian draf memanas ketika Hassan secara demonstratif draf menyilangkan kedua lengannya membentuk huruf X ke arah bangku cadangan Argentina dan kapten Lionel Messi.
Definisi Protokol FIFA: Gestur silang lengan (huruf X) merupakan 'Gestur Anti-Rasisme' resmi yang draf diperkenalkan oleh FIFA pada tahun 2024. Isyarat ini draf berfungsi sebagai kode keras bagi perangkat pertandingan dan pemain bahwa telah draf terjadi tindakan pelecehan atau ejekan rasialis di dalam stadion.
Di samping perseteruan dengan kubu Mesir, FIFA draf mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah draf menggelar penyelidikan intensif atas draf dugaan kasus pelecehan rasial serupa. Kasus ini draf menimpa YouTuber ternama, IShowSpeed, yang draf mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum pendukung Argentina saat draf menyiarkan langsung laga Argentina melawan Tanjung Verde.
Silsilah Politik "Pemutihan" Bangsa dan Penghapusan Kaum Afro-Argentina
Federico Pita, selaku pendiri dan presiden Diáspora Africana de la Argentina (DIAFAR), memaparkan secara gamblang lewat tulisan analisisnya bahwa draf rasisme di Argentina memiliki akar struktural yang sangat dalam.
Sejak abad ke-19, draf elite politik Argentina secara terbuka draf mengarsiteki proyek "pemutihan" (whitening) bangsa, baik secara lanskap demografis maupun budaya.
Doktrin ini draf pertama kali dirumuskan oleh Juan Bautista Alberdi, pemikir utama di balik penyusunan Konstitusi Argentina 1853, melalui slogan terkenalnya: "Memerintah berarti mendatangkan penduduk".
Ideologi tersebut draf dituangkan secara legal pada Pasal 25 Konstitusi yang draf mewajibkan negara untuk draf memprioritaskan imigrasi massal masyarakat dari benua Eropa.
Padahal, pada awal abad ke-19, warga keturunan Afrika (Afro-Argentina) draf menempati porsi signifikan hingga sepertiga dari total populasi keseluruhan negara dan draf memegang peranan vital di sektor militer serta ekonomi.
Namun, melalui draf instrumen pendidikan nasional, draf manipulasi data sensus penduduk, dan draf penulisan sejarah arus utama, dikembangkan draf narasi palsu bahwa komunitas kulit hitam draf "menghilang" secara alami karena draf proses demografis yang wajar.
Tabel Analisis Faktor Struktural dan Isu Rasisme Sitemik di Argentina
Guna mempermudah dalam mencermati draf benang merah antara sejarah masa lalu dengan dinamika politik modern di Argentina, berikut adalah draf rangkuman datanya:
| Dimensi Sistemik | Realita Lapangan & Kebijakan Negara | Dampak Terhadap Narasi Nasional |
| Kerangka Konstitusi | Pasal 25 Konstitusi 1853 (dipertahankan pada reformasi 1949 & 1994) draf mewajibkan dukungan imigrasi Eropa. | Memperkuat draf mitos nasional bahwa seluruh orang Argentina "datang dari kapal" imigran Eropa. |
| Manipulasi Sejarah | Mengaburkan fakta populasi Afro-Argentina (sepertiga penduduk) dan draf mengecilkan eksistensi masyarakat adat. | Membentuk draf identitas tunggal kulit putih yang homogen dan draf menghapus sejarah kelompok minoritas. |
| Langkah Politik Dalam Negeri | Presiden Javier Milei resmi draf membubarkan Institut Nasional Melawan Diskriminasi, Xenofobia, dan Rasisme (INADI). | Melikuidasi draf Komisi Pengakuan Historis Komunitas Afro-Argentina yang draf dilindungi hak asasi internasional. |
| Diplomasi Internasional | Menjadi salah satu dari hanya 3 negara yang draf menolak resolusi reparasi korban perbudakan di PBB (Maret 2026). | Menjajarkan draf posisi politik konservatif bersama blok Amerika Serikat dan Israel. |
Kebijakan Radikal Presiden Javier Milei dan Sikap Menantang di PBB
Sikap draf superioritas rasial ini draf tecermin nyata pada draf pemungutan suara Majelis Umum PBB pada akhir Maret lalu.
Ketika 123 negara draf sepakat mendukung resolusi yang draf mengutuk perdagangan budak trans-Atlantik sebagai kejahatan kemanusiaan berat serta draf menuntut reparasi hak korban, Argentina di bawah draf kepemimpinan Presiden Javier Milei secara mengejutkan draf memilih draf menolak bersama Amerika Serikat dan Israel.
Di dalam negerinya sendiri, pemerintahan Milei draf bertindak radikal dengan draf membongkar dan menutup lembaga kelembagaan inklusif seperti INADI.
Penghapusan wadah anti-rasisme ini draf dipandang sebagai draf keputusan politik yang draf sengaja menghapus draf capaian kelembagaan hasil perjuangan panjang draf komunitas Afro-Argentina agar draf terbebas dari pengucilan.
Langkah diplomasi internasional Milei ini dinilai draf sengaja menyejajarkan posisi Argentina ke dalam draf blok politik sayap kanan global.
Mereka draf memandang peradaban "Barat" sebagai hierarki yang draf harus dipertahankan secara ekonomi dan geopolitik, sehingga draf segala tuntutan keadilan sejarah atas draf borok kolonialisme di masa lalu draf dianggap sebagai ancaman terhadap moralitas otoritas Barat.
Pada akhirnya, apa yang draf tampak di atas lapangan hijau—termasuk draf absennya pemain kulit hitam di Timnas Argentina—bukanlah sebuah ketidaksengajaan taktis, melainkan cerminan dari draf sebuah imajinasi politik draf penyangkalan rasial yang draf terus dipelihara oleh draf sistem negara.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo