SOLOBALAPAN, SEMARANG — Penyesalan akhirnya datang dari penyerang muda berbakat, Fadly Alberto Hengga, setelah aksi kekerasannya di ajang Elite Pro Academy (EPA) U-20 menjadi viral.
Pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden yang terjadi di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026) lalu.
Melalui unggahan di media sosial pribadinya pada Selasa (21/4/2026), pemain berusia 17 tahun tersebut mengakui kesalahannya telah menendang pemain Dewa United Banten FC U-20, Rakha Nurkholis.
Alberto menyebut tindakannya tersebut sebagai sebuah "perbuatan bodoh" yang merugikan banyak pihak.
Meminta Maaf Secara Khusus kepada Korban
Dalam pernyataannya, Alberto secara spesifik menyebut nama Rakha Nurkholis sebagai pihak yang paling dirugikan atas emosinya yang meledak di lapangan.
Ia menyadari bahwa tindakan fisik tersebut tidak seharusnya terjadi di dunia sepak bola profesional, apalagi di tingkat pembinaan usia muda.
"Saya memohon maaf dan menyesal atas perbuatan bodoh saya saat pertandingan melawan Dewa United Banten FC U-20. Secara khusus saya meminta maaf kepada Rakha Nurkholis atas perbuatan bodoh saya menendang dirinya," ujar Fadly Alberto dalam pernyataan resminya di Instagram.
Merasa Bersalah Telah Mencoreng Nama Timnas
Sebagai pemain yang sempat menjadi idola baru berkat golnya di Piala Dunia U-17, Alberto menyadari bahwa statusnya sebagai penggawa Timnas Indonesia U-20 membuat perilakunya disorot secara nasional.
Ia meminta maaf kepada manajemen Bhayangkara FC, jajaran pelatih Timnas, hingga seluruh masyarakat Indonesia karena telah memicu kegaduhan.
"Untuk Timnas Indonesia saya meminta maaf karena perbuatan saya mencoreng nama baik Timnas Indonesia. Kepada masyarakat Indonesia saya meminta maaf karena kegaduhan akibat tindakan saya," lanjut pemain kelahiran Timika, Papua, tersebut.
Siap Menjalani Sanksi dan Belajar Menahan Emosi
Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi karier Alberto yang masih sangat panjang.
Ia menegaskan sudah siap dengan segala konsekuensi hukum atau sanksi disiplin yang akan dijatuhkan kepadanya, termasuk pencoretan dari skuad Garuda Muda yang sebelumnya sudah ramai diberitakan.
Alberto berjanji akan belajar lebih keras dalam mengendalikan emosi di lapangan hijau.
Ia berharap kejadian ini menjadi titik balik baginya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan profesional di masa depan, serta berjanji tidak akan mengulangi tindakan serupa di kemudian hari.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo