SOLOBALAPAN.COM — Dunia sepak bola Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguncang skandal kekerasan brutal.
Pemain Kafi Jogja FC, Dwi Pilihanto Nugroho, resmi dijatuhi sanksi seumur hidup oleh Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY menyusul aksi "tendangan kungfu" horor di ajang Liga 4 DIY.
Keputusan drastis ini diambil oleh Panitia Disiplin Liga 4 Piala Gubernur DIY musim 2025/2026.
Manajemen PSSI DIY menilai tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan ancaman serius terhadap nyawa pemain lain.
Kronologi Aksi Brutal di Lapangan Sitimulyo
Insiden berdarah ini pecah saat laga antara UAD FC melawan Kafi FC di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul, pada Selasa (6/1/2026).
Di tengah tensi tinggi pertandingan, tepatnya pada menit ke-72, Dwi Pilihanto Nugroho yang mengenakan nomor punggung 2 melakukan aksi yang sangat membahayakan.
Dwi mengangkat kaki terlalu tinggi dengan gerakan menyerupai tendangan kungfu yang mendarat telak di kepala pemain UAD FC, Amirul.
Benturan keras tersebut membuat Amirul tersungkur dan mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya.
Meski suasana sempat memanas, laga tetap dilanjutkan hingga Kafi Jogja FC menang tipis 1-0.
Sanksi Seumur Hidup: Karier Sepak Bola Tamat
Tak butuh waktu lama bagi Asprov PSSI DIY untuk bertindak setelah video insiden tersebut viral dan memicu kecaman netizen.
Berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 005/Pandis_Liga4DIY_PSSI_DIY/I/2026, Dwi Pilihanto dinyatakan melanggar Pasal 48, 49, 10, dan 19 Kode Disiplin PSSI 2025.
Hukuman yang dijatuhkan sangat berat dan bersifat final, yakni membayar denda sebesar Rp1.000.000,- dan Larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup.
“Pemain KAFI FC Nomor Punggung 2 Atas Nama Dwi Pilihanto Nugroho dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran Pasal 48 Jo. Pasal 49 Jo. Pasal 10 Jo. Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025,” bunyi petikan resmi keputusan tersebut.
Dengan sanksi ini, pintu bagi Dwi untuk kembali ke lapangan hijau di kompetisi resmi telah tertutup rapat.
Perangkat Pertandingan Ikut Kena Evaluasi
Selain menghukum pemain, Komite Wasit PSSI DIY juga menyoroti kinerja perangkat pertandingan yang bertugas saat laga UAD FC vs Kafi FC berlangsung.
Dinilai kurang cekatan dalam merespons aksi berbahaya, wasit dan jajarannya kini harus menjalani pembinaan lanjutan.
“Keputusan Komite Wasit PSSI DIY: Memberikan evaluasi dan pembinaan kepada Perangkat Pertandingan yang bertugas,” tulis pernyataan resmi organisasi.
Program penyegaran menyeluruh terkait Laws of the Game akan segera dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.
Asprov PSSI DIY menegaskan bahwa keselamatan pemain adalah prioritas utama.
Kasus Dwi Pilihanto ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pelaku sepak bola di tanah air bahwa tidak ada tempat bagi kekerasan di atas lapangan hijau. (dam)
Editor : Damianus Bram