SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Perjuangan berat Persis Solo untuk lolos dari jerat degradasi di akhir musim kompetisi Super League 2025/2026 tampaknya harus dibayar mahal, tak hanya di dalam lapangan tetapi juga dari sisi finansial klub.
Manajemen Laskar Sambernyawa kini tengah ketar-ketir menunggu surat cinta berupa sanksi denda baru dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Belum kering air mata manajemen setelah dijatuhi denda sebesar Rp25 juta akibat bocornya ribuan Persis Fans ke Stadion Gelora Bung Karno saat laga tandang kontra Persija Jakarta pada 27 April lalu, kini pelanggaran baru di Stadion Manahan siap membuat kondisi keuangan klub kian kempis.
Pesta Flare dan Kembang Api Makan Korban Sesak Napas
Ancaman sanksi susulan ini dipicu oleh aksi penyalaan cerawat (flare) dan kembang api secara masif oleh suporter di tribun Stadion Manahan.
Aksi tersebut meletus sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga kandang terakhir melawan Dewa United pada Minggu (17/5/2026), yang berakhir dengan kemenangan tipis Persis 1-0.
Meski tindakan tersebut merupakan bentuk pelampiasan euforia dan rasa syukur karena tim kesayangan mereka berhasil menjaga asa bertahan di kasta tertinggi, hal tersebut secara mutlak melanggar regulasi ketat kompetisi domestik.
Lebih ironisnya lagi, selebrasi asap pekat itu tidak hanya melanggar hukum tertulis, tetapi juga membawa dampak buruk secara langsung di lapangan.
Berdasarkan laporan medis pascabertanding, tercatat ada sekitar delapan orang penonton mengalami sesak napas akut akibat terhirup pekatnya belerang asap cerawat yang mengepung area tribun.
Respons Manajemen: Berharap Denda Komdis Tidak Terlalu Mencekik
Direktur PT Persis Solo Saestu (PSS), Ginda Ferachtriawan, mengonfirmasi bahwa pihak klub saat ini hanya bisa pasrah dan menunggu hasil keputusan resmi dari sidang rutin Komdis PSSI yang biasanya digelar setiap hari Rabu dan Kamis.
Ginda mengaku sangat memahami bahwa fenomena menyalakan cerawat di laga home terakhir sudah menjadi semacam tradisi menahun di kultur sepak bola Indonesia.
Namun, ia tetap berharap besaran nominal sanksi yang akan dijatuhkan nantinya tidak terlalu memberatkan neraca kas keuangan Persis Solo.
“Seingat kami, Komdis itu sidangnya setiap hari Rabu dan Kamis. Kita tunggu saja hasil sidangnya. Mudah-mudahan kalau kena sanksi tidak terlalu banyak. Kami berharap ke depannya kalau ada aksi-aksi bisa dikomunikasikan sehingga klub tidak kena denda yang berlebihan,” ungkap Ginda saat memberikan keterangan kepada media, Rabu (20/5/2026).
Catatan Pelanggaran dan Beban Finansial Persis Solo Musim Ini
| Insiden Pelanggaran | Lokasi & Waktu Kejadian | Status Sanksi / Dampak Riil |
| Bocornya Suporter Tamu | Stadion GBK (vs Persija, 27 April 2026) | Resmi Didenda Rp25 Juta (Sidang 4 Mei) |
| Penyalaan Flare & Kembang Api | Stadion Manahan (vs Dewa United, 17 Mei 2026) | Menunggu Hasil Sidang Komdis PSSI |
| Dampak Kesehatan Penonton | Tribun Stadion Manahan | 8 Orang Suporter Mengalami Sesak Napas |
Manajemen Garansi Hak Pemain Terpenuhi untuk Laga Hidup-Mati
Kendati diterpa badai denda dari organisasi pusat, Ginda menegaskan bahwa manajemen PT PSS tetap menaruh apresiasi setinggi-tingginya atas loyalitas dan suntikan motivasi luar biasa yang ditunjukkan oleh para suporter sepanjang musim sulit ini.
Ia memastikan bahwa urusan denda di belakang layar tidak akan mengganggu fokus utama tim utama.
Manajemen menjamin seluruh hak finansial, gaji, dan kebutuhan operasional anak-asuh Milomir Seslija menjelang keberangkatan laga final hidup-mati melawan Persita Tangerang di Banten International Stadium akhir pekan ini telah diselesaikan secara tuntas.
"Pemain harus bermain lepas. Kami dari manajemen hanya memastikan semua hak mereka terpenuhi sehingga bisa bermain maksimal," pungkas Ginda menutup wawancara.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo