SOLOBALAPAN, MALANG – Kekalahan Persis Solo dengan skor 0-2 dari Arema FC di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (18/4/2026), menyisakan kegelisahan tersendiri bagi sang pelatih, Milomir Seslija.
Bukannya membahas taktik yang meleset, pelatih kawakan asal Bosnia ini justru menyoroti sunyinya atmosfer stadion yang dinilainya merugikan esensi sepak bola Indonesia.
Meski memuji kualitas rumput Kanjuruhan sebagai salah satu yang terbaik di tanah air, Milo merasa ada sesuatu yang hilang: gairah dari tribun penonton.
Stadion Megah, Tapi Tanpa "Nyawa"
Bagi Milo, kemegahan stadion tidak berarti banyak jika bangku tribun kosong melompong.
Baca Juga: Tribun Dibatasi, Persis Solo Tetap Dapat Dukungan, Pasoepati Siapkan Strategi Khusus
Ia secara terang-terangan merindukan kehadiran Aremania yang biasanya memberikan tekanan sekaligus energi luar biasa di lapangan.
“Stadion sekarang terlihat sangat luar biasa, tapi tidak ada ambience, tidak ada Aremania. Sepak bola tanpa fans itu tidak ada apa-apa, terutama di Indonesia,” ujar Milo dalam konferensi pers usai laga.
Bandingkan Atmosfer Persis dan Arema
Milo yang pernah menakhodai Arema di masa lalu, mengenang betapa fanatiknya pendukung Singo Edan yang bahkan bisa mendatangkan ribuan orang hanya untuk melihat sesi latihan.
Kondisi ini ia bandingkan dengan basis suporter Persis Solo yang juga sangat militan.
Menurutnya, pemain sepak bola di Indonesia berkembang dan "dipaksa" tampil maksimal justru karena tuntutan dan dukungan dari puluhan ribu pasang mata. Tanpa itu, pertandingan hanya terasa seperti sesi latihan biasa yang hambar.
Dampak Sanksi bagi Laskar Sambernyawa
Curhatan Milo ini bukan tanpa alasan. Persis Solo sendiri tengah merasakan pahitnya bermain tanpa dukungan penuh akibat sanksi dari Komdis PSSI. Buntut kericuhan saat laga tandang melawan Persijap Jepara, Persis harus menjalani:
-
Dua laga tanpa penonton: Saat melawan Semen Padang dan Bhayangkara FC.
-
Dua laga dengan pembatasan: Melawan Persija Jakarta dan Dewa United (Tribun Utara dan Selatan ditutup).
Milo mengaku miris melihat tren stadion sepi di Indonesia belakangan ini.
Baginya, suporter adalah pemain ke-12 yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan fasilitas stadion mana pun.
Pesan untuk Suporter Indonesia
Milo menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kekuatan utama sepak bola Indonesia ada pada fanatisme pendukungnya.
Ia berharap sanksi-sanksi yang merugikan atmosfer stadion bisa segera berlalu agar sepak bola kembali memiliki "ruh".
"Banyak pemain berkembang karena dukungan fans. Tanpa mereka, sepak bola terasa sia-sia," pungkasnya.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo