SOLOBALAPAN.COM, SOLO – Kebijakan transfer manajemen Persis Solo pada paruh musim ini menuai sorotan tajam, khususnya terkait keputusan melepas dua pilar asing asal Jepang, Sho Yamamoto dan Kodai Tanaka.
Keduanya dipinjamkan ke klub lain hingga akhir musim, sebuah langkah yang dinilai mengejutkan mengingat kontribusi vital mereka bagi Laskar Sambernyawa.
Di tengah gejolak dan kekecewaan yang meluap di media sosial, perwakilan kelompok suporter Ultras 1923, Beto, memberikan tanggapan yang cukup filosofis.
Ia tidak secara frontal menyerang manajemen, namun memberikan pengingat akan realitas dunia sepak bola profesional.
"Pemain silih berganti kok, yang abadi cuma suporter," ujar Beto dengan tenang, menyiratkan bahwa loyalitas pendukung akan tetap tegak berdiri siapa pun pemain yang datang dan pergi.
Kehilangan Motor Serangan dan Top Skor
Kekecewaan publik bukan tanpa alasan.
Sho Yamamoto dan Kodai Tanaka bukan sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung tim di putaran pertama.
Berikut adalah peran vital kedua pemain tersebut sebelum dilepas:
-
Sho Yamamoto: Menjadi motor serangan yang konsisten tampil dalam 15 pertandingan, mengatur ritme, dan menjaga keseimbangan lini tengah.
-
Kodai Tanaka: Tumpuan utama lini depan yang memiliki mobilitas tinggi dan tercatat sebagai top skor sementara klub musim ini.
Keputusan melepas keduanya dinilai berisiko tinggi, terlebih Persis Solo masih berjuang mati-matian untuk menjauh dari zona degradasi.
Kasus Clayton Silva Perkeruh Suasana
Situasi semakin rumit dengan kabar batalnya registrasi pemain asing baru asal Brasil, Clayton Silva.
Pemain yang digadang-gadang sebagai pengganti sepadan bagi Kodai Tanaka ini gagal didaftarkan karena terganjal regulasi administrasi.
Akibatnya, Persis Solo kini berada dalam posisi sulit: kehilangan striker tajam yang sudah teruji, sementara penggantinya gagal bergabung.
Kondisi ini memaksa pelatih harus memutar otak lebih keras dengan opsi lini depan yang menipis di sisa kompetisi yang kian ketat. (hj/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo