Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menjelang Ramadan, Jangan Keliru! Ini Perbedaan Mandi Biasa dan Mandi Wajib Setelah Haid

Laila Zakiya • Selasa, 10 Februari 2026 | 18:53 WIB
Ilustrasi orang yang sedang mandi.
Ilustrasi orang yang sedang mandi.

SOLOBALAPAN.COM - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Muslim mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa secara maksimal.

Salah satu hal yang kerap menjadi perhatian, khususnya bagi perempuan, adalah persoalan mandi wajib setelah haid.

Tak jarang, masih muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai perbedaan mandi biasa dengan mandi besar, serta tata cara mandi wajib yang benar sesuai syariat Islam.

Padahal, pemahaman mengenai hal ini menjadi penting karena berkaitan langsung dengan sah tidaknya ibadah, termasuk puasa dan salat.

Secara umum, mandi biasa dilakukan untuk membersihkan tubuh dari kotoran, bau, atau rasa tidak nyaman.

Mandi ini bersifat kebersihan fisik dan tidak memiliki konsekuensi hukum ibadah.

Berbeda dengan itu, mandi wajib atau mandi besar setelah haid memiliki tujuan utama untuk menghilangkan hadas besar.

Tanpa mandi wajib, seorang perempuan belum dianggap suci secara syariat meskipun darah haid telah berhenti.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

“Apabila haid datang, tinggalkanlah shalat. Jika haid telah selesai, maka mandilah dan shalatlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Lupakan Romantisme Persebaya Surabaya! Dejan Tumbas Siap Pasang Badan Demi Persis Solo Lolos Degradasi

Karena itu, mandi biasa tidak dapat menggantikan mandi wajib.

Tanpa mandi wajib, seorang perempuan belum diperbolehkan melaksanakan ibadah seperti salat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan tawaf.

Perbedaan lainnya terletak pada niat. Dalam mandi wajib, niat untuk menghilangkan hadas besar menjadi syarat sah.

Niat ini dilakukan di dalam hati bersamaan dengan awal mengguyurkan air ke tubuh.

Tanpa niat tersebut, mandi yang dilakukan hanya bernilai sebagai mandi biasa dan tidak menggugurkan kewajiban mandi wajib.

Dalam fiqih Islam, tata cara mandi wajib setelah haid dapat dilakukan secara sederhana maupun sempurna sesuai sunnah Nabi Muhammad SAW.

Secara sederhana, mandi wajib dinyatakan sah apabila memenuhi dua rukun utama, yakni niat menghilangkan hadas besar dan meratakan air ke seluruh tubuh, termasuk rambut hingga ke pangkalnya serta lipatan-lipatan tubuh.

Adapun tata cara mandi wajib yang lebih sempurna sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dimulai dengan membaca basmalah, mencuci kedua telapak tangan, membersihkan area kemaluan, berwudhu seperti wudhu untuk salat, kemudian menyiram kepala sebanyak tiga kali, dan dilanjutkan dengan menyiram seluruh tubuh secara merata.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits:

“Rasulullah SAW apabila mandi janabah, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian menyiram kepalanya tiga kali, lalu menyiram seluruh tubuhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjelang Ramadan, pemahaman mengenai mandi wajib setelah haid menjadi bagian penting dari kesiapan ibadah, khususnya bagi perempuan.

Menyucikan diri tidak hanya bermakna bersih secara fisik, tetapi juga menjadi syarat sah untuk menjalankan ibadah puasa dan salat.

Dengan memahami perbedaan mandi biasa dan mandi wajib serta tata cara pelaksanaannya, diharapkan umat Muslimah dapat menyambut Ramadan dengan kondisi suci dan ibadah yang lebih tenang serta khusyuk. (mg/lz)

Magang/Izza Aziza Queen Sophia

 

Editor : Laila Zakiya
#mandi #haid #Ramadan 2026 #mandi wajib #ibadah puasa