SOLOBALAPAN.COM – Berbuka puasa adalah momen yang paling dinanti umat Islam setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Di banyak tempat, hidangan manis seperti kurma, kolak, es buah, atau segelas es teh kerap menjadi sajian pertama sebelum menyentuh makanan utama.
Kebiasaan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam sekaligus selaras dengan ilmu kesehatan.
Sunnah Mengawali dengan Kurma
Dalam tuntunan Rasulullah SAW, umat Islam dianjurkan memulai berbuka dengan kurma. Sebuah hadis riwayat Abu Daud dan Tirmidzi menyebutkan bahwa Nabi biasa berbuka dengan kurma basah. Jika tidak tersedia, beliau berbuka dengan kurma kering, dan bila tidak ada pula, cukup dengan meminum air.
Teladan ini menjadi dasar mengapa makanan manis—terutama yang berasal dari gula alami—dianjurkan saat berbuka. Selain itu, Rasulullah SAW juga menekankan untuk menyegerakan berbuka ketika waktu Magrib telah tiba.
Berbuka secara sederhana namun tepat waktu sudah bernilai ibadah dan menghadirkan kebaikan bagi seorang muslim.
Sejalan dengan Ilmu Kesehatan
Dari sisi medis, tubuh yang berpuasa sekitar 12–14 jam mengalami penurunan kadar gula darah sebagai sumber energi utama.
Mengonsumsi makanan manis saat berbuka membantu tubuh memperoleh glukosa dengan cepat sehingga rasa lemas berangsur hilang.
Kurma menjadi contoh ideal. Buah ini mengandung fruktosa dan glukosa yang mudah diserap tubuh, kaya serat, kalium, zat besi, serta antioksidan yang baik bagi pencernaan dan keseimbangan cairan.
Tidak mengherankan jika kurma disebut sebagai “makanan pembuka terbaik” dalam tradisi Islam.
Para ahli gizi juga menyarankan pola berbuka bertahap: diawali makanan ringan yang mudah dicerna, baru kemudian menyantap hidangan utama.
Cara ini membantu lambung beradaptasi setelah lama kosong sehingga mengurangi risiko kembung, mual, atau gangguan pencernaan.
Tetap Mengutamakan Keseimbangan
Meski dianjurkan, konsumsi makanan manis tetap perlu bijak. Gula berlebih dapat memicu lonjakan kadar gula darah yang justru membuat tubuh cepat lemas setelahnya.
Karena itu, pilihan terbaik adalah manisan alami seperti kurma, madu, atau buah segar dibanding minuman berpemanis berlebihan.
Islam sendiri mengajarkan prinsip tidak berlebihan dalam makan dan minum. Rasulullah SAW dikenal berbuka dengan sederhana, lalu menunaikan salat Magrib sebelum melanjutkan santap utama. Nilai kesederhanaan inilah yang patut diteladani.
Tradisi yang Beragam, Tujuan yang Sama
Di Indonesia, kolak, es buah, dan jajanan pasar menjadi menu khas berbuka. Sementara di Timur Tengah, kurma hampir tak pernah absen dari meja iftar. Bentuknya boleh berbeda, namun esensinya sama: memulihkan energi dengan cara sehat sekaligus mengikuti sunnah Nabi.
Dengan demikian, anjuran berbuka dengan yang manis bukan hanya berdasar ajaran agama, tetapi juga didukung ilmu kesehatan modern.
Melalui kebiasaan ini, umat Islam dapat menjalani puasa dengan tubuh lebih bugar, hati lebih tenang, dan ibadah yang semakin bermakna. (iz/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto