Thrifting dan Fashion Underground: Antara Identitas dan Bisnis

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 17:56 WIB
di skena underground,  fashion menjadi kultur untuk menunjukkan identitas
di skena underground, fashion menjadi kultur untuk menunjukkan identitas

SOLOBALAPAN.COM - Di tengah perkembangan tren fashion yang semakin cepat, thrifting menjadi salah satu pilihan bagi anak muda untuk menemukan gaya berpakaian yang berbeda.

Pakaian bekas, kaus band lawas, jaket vintage, hingga celana dengan potongan unik kini punya tempat tersendiri di dunia fashion. Menariknya, tren ini juga punya hubungan erat dengan budaya underground, terutama musik punk, rock, dan komunitas independen.

Baca Juga: Unik! Horog-Horog Kuliner Jepara Ini Bertekstur Kenyal, Cocok Disantap dengan Sate Cecek dan Pecel

Bagi sebagian orang, thrifting bukan sekadar cara mendapatkan pakaian dengan harga lebih terjangkau. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menemukan barang yang unik dan tidak banyak dimiliki orang lain.

Kaus band lawas, misalnya, bukan hanya dipakai karena desainnya menarik, tetapi juga bisa menjadi bentuk apresiasi terhadap musik dan budaya yang melekat pada band tersebut.

Lebih dari Sekadar Gaya Berpakaian

Dalam budaya underground, pakaian sering kali menjadi salah satu cara untuk menunjukkan identitas. Kaos band, jaket denim, sepatu yang sudah lama digunakan, hingga aksesori sederhana dapat menjadi bagian dari ekspresi diri.

Gaya berpakaian seperti ini juga kerap berkaitan dengan nilai independensi dan penolakan terhadap standar fashion arus utama.

Baca Juga: 3 Rekomendasi Villa Nyaman Dekat Mountain View Golf Bandung, Cocok Buat Staycation dan Main Golf!

Namun, tidak semua orang yang mengenakan pakaian bergaya punk atau rock otomatis memahami nilai di balik budaya tersebut.

Fashion memang bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal sebuah komunitas, tetapi identitas underground tidak hanya ditentukan oleh penampilan.

Musik yang didengarkan, karya yang dibuat, serta sikap terhadap lingkungan sosial juga dapat menjadi bagian penting dari budaya tersebut.

Ketika Budaya Alternatif Menjadi Peluang Bisnis

Meningkatnya minat terhadap pakaian vintage dan barang bekas membuka peluang bagi pelaku usaha. Pakaian yang ditemukan dari pasar loak atau pemasok barang bekas dapat dipilih, dikurasi, lalu dijual kembali melalui toko fisik maupun media sosial.

Baca Juga: Kue Pasung, Jajanan Tradisional Banten yang Punya Makna dalam Tradisi

Kaus band lawas dan pakaian dengan desain khas bahkan bisa memiliki harga jual yang tinggi, terutama ketika barang tersebut langka atau memiliki nilai koleksi.

Meski demikian, harga tinggi tidak selalu menjamin keuntungan. Penjual tetap harus memperhitungkan biaya pembelian stok, pencucian, perbaikan, pengiriman, dan pemasaran.

Di sisi lain, ketika fashion underground semakin populer, muncul pertanyaan tentang hubungan antara idealisme dan bisnis. Gaya yang awalnya tumbuh dari komunitas kecil bisa berubah menjadi tren komersial ketika mulai diminati pasar yang lebih luas.

Kondisi ini tidak selalu buruk karena dapat membantu pelaku usaha lokal berkembang. Namun, komersialisasi juga berisiko membuat nilai budaya di balik gaya tersebut hanya dipandang sebagai alat untuk menjual produk.

Tantangan di Balik Tren Thrifting

Meskipun menawarkan banyak pilihan, bisnis thrifting memiliki tantangan tersendiri. Kondisi barang yang tidak selalu sempurna, persaingan ant penjual, perubahan tren, dan ketidakpastian stok menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Selain itu, penjual perlu memberikan informasi yang jujur mengenai kondisi barang dan memastikan bahwa produk yang ditawarkan sesuai dengan deskripsinya. Untuk kaus band, keaslian merchandise juga bisa menjadi pertimbangan bagi pembeli, khususnya kolektor.

Pada akhirnya, thrifting dan fashion underground menunjukkan bahwa pakaian dapat memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar penampilan. Ada unsur kreativitas, sejarah, musik, identitas, dan peluang ekonomi di dalamnya.

Tren boleh berubah dan bisnis boleh berkembang. Namun, hal yang menarik dari budaya underground justru terletak pada kebebasan berekspresi dan keberanian untuk memiliki karakter sendiri. Sebab, menjadi berbeda bukan hanya soal mengenakan pakaian yang tidak biasa, tetapi juga memahami alasan di balik pilihan tersebut. (Rayhananda Satria Utama)

Editor : Luthfiana Sekar
musik keras ekonomi musik lifestyle